When the Distance Fades.
I.
“Nggak jadi mukul gua?”
Morgan melempar pertanyaan itu dari balik mejanya. Nada suaranya santai, tanpa sedikit pun niat bangkit dari kursi.
Matthew yang kini berada di dalam kantornya, tidak langsung menoleh. Ia bergerak pelan mengitari ruangan, seakan-akan ruang itu sedang ia baca, bukan sekadar ia masuki.
Ia berhenti di depan kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari lantai tinggi.
Dari ketinggian itu, jalanan di bawah tampak kecil. Suara lalu lintas lenyap, tertelan ketebalan kaca.
“Lu kira gua bakalan buang-buang waktu buat hal itu?” balas Matthew, nada datarnya memotong hening yang sempat mengendap.
Ia masih memandangi luar sesaat, lalu berbalik.
Matthew berjalan ke kursi yang sudah disiapkan di depan meja Morgan, lalu duduk di sana.
Morgan menyandarkan punggung ke kursi, menatap Matthew beberapa detik sebelum membuka pembicaraan.
“Apa yang mau lu obrolin tentang chip?” tanyanya, nada suaranya lebih serius meski ekspresinya tetap santai.
“What did Astro put on that chip?” balas Matthew tanpa basa-basi.
“That’s a big question, Matt.”
“Then give me a big answer,” jawab Matthew, tenang tapi menekan.
Morgan menarik napas kecil.
“Probably everything. Astro knows the whole thing.”
“Makanya dia dulu bisa deket sama Lenner. Mereka bikin kesepakatan karena kemampuan yang Astro punya,” lanjutnya.
“Kesepakatan?” tanya Matthew rendah.
“Iya, Astro bersihin jejak kotor Lenner dan orang-orangnya. Dia juga yang megang CCTV di Kardelos waktu itu.”
Morgan berhenti sejenak.
“Jadinya, dia dikasih benefit. That’s why Astro got that building in the first place,” lanjutnya.
“That wasn’t all he did, was it?” sahut Matthew.
Morgan mengangguk.
“Iya. Astro nyimpen semua bukti jahat si bajingan itu, dan tentu beberapa ada di chip itu.”
“So he had leverage. He had control. Dan itu yang bikin mereka pecah jadi musuh,” lanjut Morgan.
Matthew menahan napas sejenak, ekspresinya mengeras.
“You think Lenner killed him?”
“Gua sempet mikir gitu. But turns out, Lenner juga nggak tau kalau Astro meninggal. Which is fucked up, honestly,” jawab Morgan, nada suaranya lebih berat.
“Udah takdirnya kali.”
Morgan mendengus, sepersekian detik matanya bergerak cepat seperti menyusun kemungkinan.
“Yang jadi pertanyaan, where the hell is that chip now? Itu harusnya ada di satu tempat.”
“Gua jadi keinget berita beberapa minggu lalu yang nge-bahas dua konglomerat pesaing dan Astro Corp nyimpen dokumen rahasianya.”
Morgan langsung mengangguk kecil.
“Iya, gua kepikiran siapa yang kirim itu ke media. Whoever it was, they knew about us.”
“Lu nggak coba cari Andreas? Dia dulu kan tangan kanannya Astro.”
Morgan tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya kembali, jemarinya saling bertaut di atas perut.
“Emang. Tapi nggak tau juga.”
“Gua tau Astro lepas semua anak-anak lamanya dan ganti orang baru buat bangun Astro Corp.”
“So you’re not suspicious of him?” tanya Matthew.
“Bukan nggak curiga, cuma gua rasa Andreas tuh terlalu predictable.”
“Astro wouldn’t hand something that sensitive to someone that easy to read. Walaupun dia pernah jadi tangan kanannya,” lanjut Morgan.
“Tapi lu harus mastiin juga, dia udah ngilang tiga tahun. We don’t even know what he’s doing now.”
“Lu mau mastiin itu buat gua?” tanya Morgan.
“Kenapa harus gua? Lu kan masih punya Silas sama Jonas.”
Untuk pertama kalinya sejak awal pembicaraan, Morgan terdiam lebih lama.
Ekspresinya tetap terkendali, tapi ada sesuatu di matanya yang tertahan.
“Jadi lu masih nggak mau kerja sama bareng gua, ya?”
“Kerja sama apanya? Gua jadi pesuruh lu dan lu bayar setelahnya?” sindir Matthew.
Morgan menahan napas.
Pandangannya sempat jatuh ke meja sebelum kembali naik.
“Gua nggak bermaksud gitu. Gua cuma masih butuh lu.”
“Butuh gua? Lu pikir bawa-bawa Cassa itu solusi just because you know I care about her?”
“Gua nggak tau harus gimana.”
“Kalau gua tolak? You take the apartment back?” tanya Matthew.
“Nggak.”
Morgan menghela napas, lalu menatapnya dengan keyakinan yang tenang.
“Lagian gua tau lu nggak bakal nolak.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, suaranya lebih rendah.
“Matt, we grew up the same way. Broken the same way.”
Nada bicaranya santai, seolah itu hanya fakta biasa.
“Gua tau lu punya rasa peduli ke gua, karena kita juga sama-sama kehilangan peran seorang ayah.”
“Lu tau anjing nggak?” balas Matthew, nadanya sinis.
Morgan tertawa kecil. Bukan tersinggung, justru seperti menikmati reaksi itu.
“Lu tau, Matt. Gua punya mimpi.”
“Kita punya mimpi.”
Ia menatap ke arah jendela sesaat.
“Build our own company itu salah satu mimpi gua.”
“Mimpi kita.”
Ia kembali menatap Matthew.
“Makanya waktu itu gua percaya Lenner. Dia bilang gua bakal dapetin itu kalau gua nurutin dia dan rencananya.”
“Kenapa nggak lu aja?” Matthew memotong, tajam.
“Kenapa harus Baron?” tanyanya sekali lagi.
“Gua nggak tau kalau dia punya dendam, Matt.”
Morgan berhenti sejenak, sebelum melanjutkan.
“Gua nggak tau apa motif dia. Gua nggak tau kalau Lenner suka Cecillia.” Morgan menunduk, ia menghembuskan napas panjang.
“I just believed we could get what we were promised, Matt.”
Matthew menahan napas sejenak sebelum menjawab.
“Dan ternyata itu malah ngehancurin kita.”
“I know, sorry.”
Morgan terdiam beberapa detik, sebelum ia bicara lagi.
“Tapi kalau chip itu bisa kita dapetin, at least kita punya satu kesempatan buat memperbaiki sisanya.”
Matthew menatap Morgan, menimbang beberapa perkiraan yang ada di kepalanya.
Sebelum akhirnya mengambil keputusan.
“Kalau gitu, coba bilang apa yang harus gua lakuin.”
II.
Setelah pertemuan dengan Morgan berakhir, Matthew melangkah keluar dari ruangannya.
Begitu keluar dari lift, Matthew berjalan melewati lobby gedung yang sore itu bergerak dengan ritme biasa.
Tidak terlalu ramai, tapi cukup terasa kehidupan kantor yang sedang berlangsung.
Beberapa staf melintas, ada yang membawa tablet, ada yang hanya lewat sambil berbicara pelan.
Matthew menuju pintu keluar dengan langkah santai, pikirannya masih mengulang percakapannya dengan Morgan.
Tiba-tiba, seseorang menabraknya.
Seorang wanita yang tampak tergesa, dengan beberapa berkas di tangan kirinya, dan ponsel menempel di telinga.
Lembaran-lembaran dokumen itu kini jatuh menyebar di lantai.
“Aduh, maaf ya,” ucapnya cepat sambil membungkuk, bahunya merunduk dalam.
Di ponsel itu, suara samar terdengar.
“Nggak apa-apa pak… iya. Ini saya lagi mau ke ruangannya Pak Morgan,” katanya, membalas obrolan dari telepon.
Matthew ikut menunduk, membantu mengambil dua map yang jatuh agak jauh dari kakinya.
Beberapa orang yang melintas hanya melirik sekilas sebelum melanjutkan langkah, tidak benar-benar memperhatikan.
Begitu mereka berdiri, Matthew menyodorkan dokumen itu. Wanita itu menerimanya dengan terburu-buru.
“Terima kasih,” katanya singkat, sebelum akhirnya membungkuk ke arah Matthew lalu berjalan cepat, menyelinap ke dalam arus orang-orang di lobby
Matthew kembali melangkah ke arah pintu.
Namun tiba-tiba, langkahnya melambat tanpa ia sadari.
Ia menoleh sekilas, bukan benar-benar mencari.
Wanita itu sudah bergerak jauh, siluetnya menyusut di tengah lorong, masih dengan telepon yang menempel di telinganya.
Ada sesuatu yang terasa familiar, tapi tidak cukup jelas untuk ditangkap.
Matthew mengernyit tipis.
Hanya sebentar.
Lalu ia kembali berjalan keluar dari gedung, membiarkan rasa itu menggantung tanpa jawaban.
III.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, dan Yaziel masih duduk di salah satu bangku ruang meeting.
Di sekeliling meja panjang, beberapa orang lainnya juga terduduk. Sesekali ada yang menatap layar laptop, sesekali menulis cepat di buku catatan.
Yaziel menyandarkan punggung sebentar, menahan pegal yang sejak tadi menumpuk di bahunya.
Dari awal rapat, Yaziel lebih banyak diam. Tubuhnya yang baru saja kembali ke ritme kerja mulai menunjukkan keberatan setelah duduk berjam-jam tanpa jeda.
“Yaziel, kamu besok ikut ya,” suara Pak Hugo memotong pikirannya.
“Saya?” Yaziel menoleh terkejut.
“Iya. Besok kamu akan ikut tim survei. Nanti kamu bertugas sebagai pendataan ringan.”
“Baik, Pak,” jawabnya singkat.
Nada suaranya terdengar patuh, tapi di dalam kepalanya ada keluhan kecil.
Rasa lelah yang belum sepenuhnya reda bertabrakan dengan tugas baru yang datang tiba-tiba.
“Oh ya, karena kamu baru masuk lagi setelah seminggu, saya ingin mengenalkan kamu ke seseorang. Boleh kamu berdiri sebentar?” Pak Hugo berkata lembut sambil menatap salah satu orang di ruangan.
Yaziel menoleh.
Di seberang meja, seorang pria muda berdiri dengan kemeja rapi dan postur tubuh yang tenang,
“Yaziel, ini Aidan. Dia sekarang menjabat sebagai Head of Strategy di Vornex, menggantikan posisi Bianca,” kata Pak Hugo sambil memberi sedikit gestur ke arah Aidan.
Aidan melangkah mendekat dengan senyum hangat menyodorkan tangannya ke Yaziel.
“Salam kenal, aku Aidan.”
Yaziel ikut berdiri, sedikit kikuk, lalu menyambut jabat tangan itu.
“Yaziel,” katanya singkat.
Kontak itu hanya berlangsung sepersekian detik, sebelum Yaziel kembali duduk dan mencoba menyatu lagi dengan kursinya.
“Nah, Aidan juga akan ikut bersama kalian besok,” kata Pak Hugo menambahkan.
Beberapa pasang mata berpindah arah.
Ada anggukan kecil, ada pula ekspresi datar.
Dinamika kantor yang bergerak seperti biasa.
“Oke, kalau begitu untuk hari ini cukup sampai di sini. Untuk detail selanjutnya, terutama beberapa strategi tambahan, kita akan lanjutkan lewat meeting online nanti.”
Laptop mulai ditutup satu per satu, suara klik dan gesekan kursi mengisi ruangan.
Beberapa orang bertukar komentar singkat, sebagian hanya saling tersenyum tanpa benar-benar berbicara.
Pak Hugo menepuk tangan pelan, memberi tanda penutupan resmi rapat.
Satu per satu peserta rapat mulai berdiri dan mengambil barang-barang mereka. Yaziel mengangkat laptopnya, lalu mengikuti arus orang-orang yang meninggalkan ruang pertemuan.
Ketegangan yang sejak tadi menempel di bahunya perlahan mengendur.
Rapat itu akhirnya benar-benar usai.
Tidak ada yang ia pikirkan selain berjalan menuju keluar gedung.
Yaziel melangkah keluar. Udara malam menyentuh kulitnya, dingin merayap pelan dari kerah kemeja hingga punggung.
Ia menarik bahunya sedikit, gerakan kecil untuk menahan sisa hangat yang masih tersisa, lalu menuruni halaman depan gedung dengan langkah tenang.
Lampu-lampu luar memantul samar, menciptakan bayangan panjang yang ikut bergerak bersamanya.
Karena sudah cukup malam dan menunggu bus bisa memakan waktu lama, ia memutuskan bahwa naik taksi adalah pilihan yang tepat saat ini.
Yaziel berjalan perlahan, pandangannya tertuju ke arah jalan yang lengang, seolah mencari titik yang pas untuk berhenti sejenak.
Lalu sebuah suara memanggilnya dari belakang.
“Yaziel!”
Ia menoleh cepat.
Seseorang datang mendekat dengan langkah setengah berlari.
Aidan.
“Pulang sendiri?” tanyanya.
Nada suaranya lembut, dan ada senyum tipis yang ikut terselip di ujung kalimatnya.
Yaziel mengangguk kecil. Senyum tipis muncul terlambat, masih ada sisa keterkejutan di wajahnya.
“Iya, sendirian.”
“Oh, kamu tinggal di mana?“
“Eastpoint,” jawab Yaziel ragu.
“Wah, Eastpoint ya? Itu daerah yang lumayan elit juga, setahuku.”
Yaziel hanya membalas dengan anggukan pelan dan senyum tipis. Reaksi halus yang biasanya muncul setiap kali ia merasa canggung, tapi tetap ingin terlihat ramah.
“Aku sendiri tinggal di Riverton,” lanjut Aidan.
“Riverton?” Yaziel mengulang.
“Iya. Tempatnya tepat di belakang Vornex. Kalau nggak capek, aku bakalan pulang jalan kaki.”
“Oh… aku baru tahu,” balasnya singkat.
“Aku tadi mikir kamu tinggal di Riverton juga, biasanya yang rumahnya jauh memilih naik kendaraan pribadi.”
“Iya, aku naik bus. Soalnya aku mabuk mobil.”
Aidan menoleh cepat, ekspresinya langsung hidup.
“Kamu mabuk mobil?” ulangnya, matanya membesar sedikit, seperti menemukan fakta lucu yang tak terduga.
“Haha, kaya adik perempuanku. Bahkan bau parfum dikit aja bisa bikin dia pusing,” lanjutnya.
Senyumnya benar-benar tulus, jenis senyum yang membuat udara di antara mereka terasa lebih dekat dari sebelumnya.
Melihat itu, Yaziel ikut tersenyum tipis, lebih lepas dari sebelumnya.
“Terus kamu jam segini pulangnya gimana? Kamu nggak naik taksi?” tanya Aidan lagi.
“Aku naik taksi, kok. Mau nggak mau,” jawab Yaziel.
Mereka berjalan sampai ke tepi jalan, tempat taksi biasa berhenti.
Tak lama, sebuah taksi melambat, lalu berhenti tepat di depan mereka.
Aidan melihat platnya sekilas, lalu tersenyum.
Ia menoleh pada Yaziel, suara dan senyumnya hangat dan ramah.
“Kalau gitu aku duluan, ya. Sampai bertemu lagi.”
“Iya, Kak. Hati-hati.”
Aidan melangkah menuju taksi. Saat pintu terbuka, ia sempat menoleh lagi dan melambaikan tangan kecil. Yaziel membalas dengan lambaian pendek.
Pintu taksi itu tertutup dengan bunyi lembut. Perlahan mobil itu menjauh, lalu menghilang di tikungan.
Yaziel menarik napas pelan.
Ia meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi pemesanan taksi dengan satu sentuhan.
Jempolnya bergerak perlahan di layar, memilih driver yang tersedia, lalu menekan pesan.
Sesaat setelahnya, ibu jarinya kembali menyentuh layar.
Instagram terbuka, lalu berpindah ke inbox.
Di bagian paling atas, satu akun muncul.
Satu-satunya nama di inbox akun barunya.
matthehelll.
Yaziel menatap username itu dengan ekspresi heran. Ia mengetuk akun itu hanya untuk memastikan.
Dan seperti dugaan.
Tidak ada pesan baru.
Hanya seen yang dibiarkan menggantung.
Ia mendecih pelan.
Ucapan Matthew tadi siang kembali muncul di kepalanya.
Menjemput apanya, pikirnya.
Di dalam hati, Yaziel menggerutu.
Memangnya apa yang bisa diharapkan dari orang yang bernama Matthew itu?
Ya… dia sendiri juga menolaknya, sih.
Yaziel mengerucutkan bibir sedikit, cemberut kecil yang muncul spontan.
Saat melihat ke akun itu, ia masih tidak habis pikir kenapa Matthew memilih username sejelek itu.
Entah kapan orang itu berniat menggantinya.
Udara malam kembali menyelusup di sela-sela kemejanya. Ia menarik bahu pelan, gerakan kecil yang tidak sepenuhnya mengusir dingin.
Di tengah lamunan tipis itu, suara mesin melambat mendekatinya.
Sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Yaziel mendongak saat kaca jendela sisi pengemudi turun beberapa inci.
“Atas nama Yaziel Eilric?”
“Iya.”
Ia memasukkan ponselnya ke saku sebelum membuka pintu, lalu masuk, dan menutupnya perlahan.
Taksi mulai bergerak, menyatu dengan arus jalan yang tenang.
Yaziel duduk di kursi penumpang belakang sebelah kanan, tubuhnya tenggelam ke sandaran.
IV.
Dari balik jendela, kota mengalir seperti pita cahaya yang ditarik pelan. Lampu-lampu toko, bayangan pepohonan, dan garis panjang lampu jalan berulang melewati kaca di sebelahnya.
Di kejauhan, gedung-gedung memantulkan cahaya putih kekuningan, tampak lebih tenang dibanding hiruk-pikuk jalan di bawahnya.
Aroma pengharum mobil memenuhi kabin.
Menyadari itu, Yaziel meraih tas di pangkuannya dan mengeluarkan sebotol minyak kecil yang selalu ia bawa. Ia mengoleskan sedikit di pergelangan tangan, menghirupnya singkat, lalu menutup kembali botol itu.
Ia tidak berbohong soal rasa mabuknya.
Yaziel bersandar lagi, dan membiarkan napasnya melambat.
Dalam hati, ia berharap perjalanan ini tidak memakan waktu lama, sebelum aroma mobil kembali mengaduk perutnya.
Perjalanan pulang bergulir pelan.
Yaziel bersandar, menoleh ke kaca di sebelah kanan, membiarkan lampu-lampu luar melintas tipis di wajahnya.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki tikungan kanan.
Lajunya melambat.
Tak lama setelah itu, arus kendaraan di depan berhenti. Barisan lampu merah menyala serempak, membuat seluruh jalur tampak seperti sungai cahaya yang mendadak membeku.
Macet.
Mesin di sekitar menggeram pelan, sementara suara klakson datang dari berbagai arah.
Saling menumpuk sampai terdengar seperti dengung yang memenuhi udara.
Yaziel menarik napas pelan, ia hanya berharap kemacetan ini tidak berlangsung lama.
Tentu saja, berlama-lama di dalam mobil bukan sesuatu yang ia inginkan.
Pandangannya yang terus terpaku ke jendela kanan mulai terasa menjemukan.
Ia menggeser tubuhnya ke sebelah kiri.
Tidak ada tujuan tertentu, sekadar mencari sesuatu untuk mengalihkan pikirannya.
Di jalur tempat mobilnya berada, kendaraan menumpuk dan nyaris tak bergerak. Sementara di sisi kiri, dipisahkan oleh trotoar rendah, arus lalu lintas tampak lebih lengang.
Pandangannya menangkap deretan toko di seberang jalan, beberapa sudah gelap.
Hingga matanya bergerak sedikit ke arah belakang.
Sebuah gerakan menangkap perhatiannya. Cukup untuk membuat kepalanya berhenti bergerak.
Ia menajamkan pandangan.
Ada sesuatu di sana.
Dari kejauhan, ia menangkap bayangan beberapa orang yang bergerak cepat.
Ada empat orang.
Di tengah mereka, satu sosok lain terbaring di bawah. Beberapa orang di sekitarnya berdiri agak jauh, tidak ikut mendekat.
Baru saat itu Yaziel menyadari, itu bukan sekadar kerumunan.
Seseorang sedang dikeroyok.
Pikirannya saling bertabrakan.
Apakah pemukulan sudah terlalu biasa di kota ini, sampai orang-orang bisa berdiri dan hanya menonton?
Atau memang orang yang sedang mereka pukuli itu adalah orang jahat?
Pandangannya turun, memeriksa detail di sekitar.
Tepat di depan mereka, sebuah mobil terparkir dengan pintu terbuka setengah, seolah seseorang baru saja turun dengan tergesa.
Tak jauh dari sana, sebuah motor tergeletak.
Pandangan Yaziel tertahan di motor itu lebih lama.
Ada sesuatu yang terasa familiar.
Perasaan itu mendorongnya bergerak.
Tanpa ragu, ia menurunkan kaca jendela taksi perlahan, berusaha memastikan siapa sosok yang terbaring di tengah kepungan itu.
Untuk sesaat, ia berharap pikirannya keliru. Helm yang menutupi kepala pria itu membuat wajahnya sulit dikenali.
Yaziel terus menatap, memaksa dirinya melihat lebih lama.
Hingga keraguan itu runtuh.
Ia mengenal lelaki itu.
Tanpa berpikir panjang, Yaziel meraih tasnya dan menarik gagang pintu taksi. Udara malam langsung menyusup begitu pintu terbuka.
Sopir taksi menoleh cepat, terkejut.
“Eh, Kak mau ke mana? Bayar dulu!”
“Oh iya, sebentar, Pak.”
Tangannya bergerak tergesa, merogoh saku celananya, menarik beberapa lembar uang dan menyerahkannya ke depan.
“Ini ya, Pak. Makasih.”
Sopir menerima uang itu sambil mengangguk pelan, ekspresinya terlihat bingung.
Yaziel tidak menunggu balasan, ia sudah keluar sepenuhnya dari taksi.
Ia melangkah cepat setengah berlari menyelinap di antara beberapa kendaraan yang terhenti, lalu mencapai trotoar yang memisahkan jalur kanan dan kiri.
Begitu sampai, ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri, memastikan tidak ada kendaraan yang melaju tiba-tiba.
Setelah itu, ia melangkah maju dan menyeberang.
Langkahnya cepat, seperti lari kecil.
Jarak di antara dirinya dan kerumunan itu menyusut dalam hitungan detik.
Begitu mencapai lingkaran orang-orang tersebut, Yaziel menghentikan langkahnya di tengah-tengah mereka.
“Stop!”
Suaranya memotong udara dengan tegas.
Keempat orang itu refleks mundur setengah langkah, terkejut oleh kemunculannya yang tiba-tiba.
Beberapa orang di sekitar yang sejak tadi hanya menonton ikut tersentak, perhatian mereka kini sepenuhnya tertuju pada Yaziel.
Salah satu dari mereka mengerutkan kening, tatapannya menyapu Yaziel dari atas ke bawah.
“Lo siapa?”
Yaziel tidak menjawab.
Bahkan tidak menoleh.
Ia langsung berlutut, menurunkan dirinya ke tengah lingkaran. Pandangannya jatuh pada sosok yang tergeletak di aspal.
Dan benar.
Itu Matthew.
“Matthew, Matthew…” panggilnya pelan, suaranya pecah di tengah napas yang tidak stabil, campuran cemas dan panik yang tak sempat ia sembunyikan.
Nama itu menggantung di udara.
Keempat pria yang tadi mengeroyok berhenti bergerak. Mereka saling menoleh satu sama lain, ekspresi di wajah mereka berubah bingung, ragu, lalu sedikit panik.
Mereka mengenali nama itu.
Matthew, yang sejak tadi hanya terbaring pasrah, tersentak kecil saat mendengar suara familiar memanggil namanya.
Dengan sisa tenaga, ia mencoba mengangkat kepala, meski perih dari pukulan masih menjalar di sekujur tubuhnya.
“Yaziel?” suaranya pelan, tercampur kaget. Seolah kehadiran Yaziel di tempat itu tidak masuk akal.
“Lu gapapa?” Yaziel berlutut lebih dekat, nadanya penuh cemas, nyaris gemetar.
Ia tidak peduli lagi soal jarak di antara mereka, melihat seseorang yang ia kenal tergeletak seperti itu sudah cukup untuk membuat kepanikannya nyata.
Belum sempat Matthew menjawab, satu dari empat pria itu tiba-tiba melangkah maju.
Tangannya meraih helm yang masih menutupi wajah Matthew dan menariknya dengan kasar.
Matthew meringis ketika bagian visor helm yang sudah retak akibat pukulan sebelumnya menggeser. Pinggirannya menggores pipinya, meninggalkan garis luka merah yang memanjang.
Helm itu akhirnya terlepas.
Pria yang menariknya terdiam, genggamannya mengendur, dan helm tersebut jatuh ke bawah.
“M-Matthew?”
Nada suaranya berubah seketika.
Ia kaget, seolah baru menyadari sesuatu yang seharusnya ia kenali sejak awal.
“Lo ngapain ngikutin kita?” lanjutnya.
Kalimat itu terdengar lebih seperti pembelaan yang terburu-buru.
Matthew menarik napas pendek. Dengan tangan kiri yang sedikit gemetar, ia mengusap darah tipis yang terseret samar mengikuti gerakan jarinya.
“Siapa juga yang ngikutin lu, bodoh,” gumamnya ketus, suaranya serak saat ia berusaha mengatur napas.
Kerumunan yang sejak tadi yakin sedang menyaksikan seorang penjahat dipukuli mulai saling pandang.
Wajah-wajah tegang berubah menjadi bingung, lalu satu per satu kehilangan minat. Beberapa orang berbalik, menjauh, seolah kejadian ini tak lagi seru untuk ditonton.
Yaziel menelan ludah, mencoba merangkai apa yang ia lihat.
Apa Matthew dan orang-orang ini saling mengenal?
Apa hubungan mereka?
Dan kenapa Matthew bisa ada di tengah situasi seperti ini?
Tiba-tiba, pintu mobil yang terparkir di depan mereka terbuka.
Seseorang turun dengan langkah santai sambil mengucek matanya, seperti orang yang baru terbangun.
Namun langkah itu terhenti mendadak saat matanya menangkap sosok Matthew yang tergeletak di aspal.
Ia segera menghampiri.
Ekspresinya berubah cepat dari kaget, lalu khawatir.
“Matthew, kamu nggak apa-apa?”
Itu Mikael.
Setelah memastikan, sekadar cukup untuk tahu Matthew masih sadar, Mikael langsung beralih pada empat pria yang kini berdiri kaku di belakang mereka.
“Kan udah gua bilang, jangan sembarang nyerang orang.”
“Kalau Darren tau, kena lagi kalian,” lanjutnya, sedikit menaikkan nada namun tetap pelan.
Keempatnya langsung menunduk, serempak. Postur mereka mengecil, seperti anak sekolah yang baru ketahuan berbuat bodoh.
Yaziel hanya memandangi orang-orang di sekitarnya dengan perasaan bingung.
Situasinya bergerak terlalu cepat untuk ia tangkap sepenuhnya. Ia memilih diam, tidak yakin perannya di tengah lingkaran kecil ini.
Mikael kembali menoleh ke Matthew.
“Kamu gapapa, Matthew?”
“Iya, gapapa.”
Wajahnya menahan perih.
Sembari mengatur napasnya, ia mencoba bangkit. Mikael langsung meraih lengannya dan membantu.
Yaziel sempat bergerak setengah langkah untuk ikut membantu, tapi segera menghentikan dirinya sendiri.
Ia merasa kehadirannya tidak perlu, atau mungkin terlalu tiba-tiba untuk terlibat sedekat itu.
Yaziel mundur dan berdiri sendiri.
Setelah berdiri, Matthew menepuk-nepuk bajunya, menyapu debu dan pasir yang menempel.
Kemudian ia menoleh ke Yaziel.
Matthew meraih tangan Yaziel dan menariknya, sedikit menjauh dari kerumunan.
Yaziel tersentak, kaget, tapi tidak melawan, hanya mengikuti tarikan itu begitu saja.
“Lu kenapa bisa ada di sini?”
“Oh…” Yaziel mengusap tengkuknya, suaranya ragu, mencari alasan yang tepat untuk menjawab.
“Tadi macet di sana. Gua nggak betah lama-lama di mobil.”
Ada jeda singkat, cukup lama untuk memilih kata.
“Jadi gua keluar, terus ngeliat lu—”
“Terus lu samperin? Matthew memotongnya.
“Lu tau nggak itu bahaya?” sambungnya.
Suaranya berat, masih terputus-putus saat ia mengatur napasnya.
Yaziel menangkap nada Matthew yang meninggi, terdengar seperti nada marah.
Untuk pertama kalinya malam itu, Matthew benar-benar menatapnya tanpa canggung.
“Emang lu berharap gua diem aja ngeliat orang yang gua kenal dipukulin?” balas Yaziel, tidak mau kalah.
Kali ini, ia juga berani menatap Matthew, meski sesekali pandangannya turun sekilas.
Ada sesuatu di nada Matthew yang membuatnya sedikit menciut, dan tentu saja, Yaziel tidak berniat memperlihatkan itu.
Dalam hati, ia bahkan jengkel.
Udah ditolongin, bukannya terima kasih, malah marah-marah.
Mikael, yang sejak tadi hanya mengamati, akhirnya melangkah mendekat. Raut wajahnya penuh rasa ingin tahu.
“Dia siapa?” tanyanya pada Matthew.
“Temennya,” jawab Yaziel, tidak memberikan kesempatan Matthew menjawab.
“Oh, kamu temennya. Salam kenal—Mikael.”
Mikael mengulurkan tangan.
Yaziel sempat berkedip, bingung, sebelum akhirnya menyambut jabatan itu dengan kaku.
Ia tidak tahu siapa pria tinggi di depannya ini, atau kenapa kedekatannya dengan Matthew terasa berbeda.
Jangan-jangan ini gebetannya?
Atau seseorang yang lebih dekat dari yang ia tau?
Cara Mikael bicara pada Matthew—kamu—jelas tidak sama dengan nada keras yang ia pakai saat menegur empat orang di belakangnya tadi.
Bukan romantis.
Bukan juga kelembutan yang manis.
Kontras itu justru membuat Yaziel semakin bingung.
Dan fakta bahwa keempat berandal itu tunduk padanya?
Yaziel tidak mengerti apa pun dari situasi ini. Pikirannya mulai berbisik pelan, dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban.
Mikael akhirnya mengalihkan perhatiannya pada Matthew. Pandangannya turun ke pipi yang tergores, lalu bergeser ke helm yang tergeletak miring di aspal.
“Pipi kamu luka,” ujarnya. Nadanya datar, tapi kekhawatiran di baliknya tidak benar-benar tersembunyi. “Kayaknya kamu juga perlu ganti helm.”
Tangannya bergerak ke saku, seolah hendak mengambil sesuatu.
“Nggak usah,” Matthew cepat memotong.
“Ini nggak sakit.”
“Nggak sakit tapi kamu berdarah.”
Mikael melangkah mendekat, hendak menunjuk bagian pipi yang terluka. Matthew spontan mundur setengah langkah.
“Serius. Gua gapapa.”
Tanpa menunggu, Matthew berjalan ke arah motornya yang tergeletak.
Ia menunduk lalu mencoba mengangkatnya, meski tubuhnya belum sepenuhnya stabil dan nyeri masih menjalar di tiap gerakan.
Mikael yang melihat itu langsung menoleh sekali ke empat orang di belakang.
Tidak ada perintah.
Namun sekejap kemudian, mereka bergerak serempak menghampiri Matthew dan membantu menegakkan motor itu hingga kembali berdiri.
Yaziel hanya berdiam diri, seakan terpisah dari dunia di sekitarnya. Seolah ada garis tipis yang baru saja ia lewati tanpa sadar.
Baru sekarang, di tengah kebisingan malam yang mengalir, ia menyadari betapa gegabah tindakannya barusan.
Ia seharusnya tetap di dalam taksi.
Sekarang ia hanya bisa menatap ke arah jalur kanan yang kini mengalir mulus lagi.
Bagaimana nanti ia pulang?
Kenapa ia bisa-bisanya berlari ke sini?
Dan bagaimana kalau tadi orang yang dikeroyok itu bukan Matthew?
Atau kalaupun memang Matthew, sejak kapan itu jadi urusannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar, seperti deru lalu lintas yang tak pernah berhenti.
Antara tak percaya pada tindakannya sendiri dan keraguan apakah ia bertindak bodoh atau malah waras dengan cara yang aneh.
“Maaf kamu jadi terluka, motormu juga. Aku akan kirim uangnya untuk perbaikannya,” kata Mikael, nada suaranya berusaha menenangkan Matthew, yang tampak tidak terlalu peduli.
“Nggak perlu,” jawab Matthew singkat.
Tanpa menunggu balasan lain, ia berbalik. Langkahnya mantap meski tubuhnya jelas lelah.
Ia berjalan ke helm yang tergeletak di bawah, membungkuk, dan mengambilnya dengan satu tangan.
Begitu berdiri kembali, Matthew menghampiri Yaziel yang sejak tadi menatap bawah dengan wajah murung.
Matthew berhenti tepat di depannya. Ada jeda satu detik, cukup untuk membuat Yaziel menyadari kehadiran orang itu sepenuhnya.
Lalu, dengan gerakan yang tegas, Matthew mengulurkan helm ke arah dada Yaziel tanpa memberi ruang untuk menolak.
Yaziel mengangkat kepala perlahan.
“Hah?”
“Ambil.”
Matthew menatapnya sebentar, lalu mendorong helm itu sedikit ke arahnya.
Yaziel akhirnya meraih helm itu, menggenggam pinggirannya dengan kedua tangan. Ekspresi bingungnya belum sepenuhnya hilang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Matthew langsung berbalik menuju motornya, melewati Mikael dan keempat pria tadi.
Mikael berjalan ke arah Yaziel.
“Nanti tolong obati Matthew, ya.”
Yaziel menatapnya.
Ada perasaan asing dalam kehadiran lelaki bernama Mikael itu.
Ia tidak tahu pasti siapa dia.
Tapi yang jelas, orang itu peduli pada Matthew.
“Iya…” jawabnya ragu.
Di sela percakapan singkat itu, suara mesin motor terdengar mendekat.
Matthew menghentikannya tepat di samping Yaziel.
Yaziel menoleh, pandangannya bertemu Matthew yang duduk di atas motor besar itu.
“Apa?” tanya Yaziel bingung.
“Mau di sini sama mereka?”
Kata-kata itu membuat Yaziel akhirnya mengerti.
Tanpa banyak tanya, ia langsung bergerak.
Langkahnya sedikit canggung saat mendekati motor Matthew, motor besar dengan rangka kokoh dan posisi duduk yang jelas tidak dirancang untuk boncengan nyaman.
Sampai akhirnya ia berhasil duduk, meski jaraknya dengan Matthew terasa canggung.
Ia menggeser tubuhnya sedikit, mencari posisi yang paling aman.
Matthew menoleh.
“Udah?”
“Udah…” jawab Yaziel, pelan.
Di sebelah mereka, Mikael masih berdiri, memperhatikan dengan ekspresi hangat. Suaranya terdengar wajar, tapi tetap membawa nada asing di telinga Matthew.
Apalagi Yaziel.
“Kalian hati-hati di jalan, ya,” ucapnya, disertai senyuman tulus, seperti orang yang benar-benar peduli pada keselamatan orang lain.
Matthew menatapnya, respons pertamanya adalah heran, bukan membalas.
Mau bagaimana pun, dia orangnya Darren.
Di belakang Matthew, Yaziel hanya bisa mengangguk singkat, senyum tipis muncul tanpa banyak arti, karena ia sama sekali belum paham apa yang sedang terjadi.
Belum sempat suasana itu benar-benar meresap, Matthew memutar gas.
Suara mesin mengisi udara malam, dan motor itu melaju perlahan, meninggalkan Mikael dan empat orang tadi.
Mikael mengikuti motor itu dengan pandangan sekilas, sebelum akhirnya menepuk ringan lengan salah satu dari empat orangnya sebelum berjalan menuju mobil yang terparkir.
Mereka masuk.
Mikael duduk di kursi penumpang depan, sementara pengemudi adalah salah satu yang tadi ikut menyerang Matthew.
Mobil mulai melaju.
Mikael menoleh ke pengemudi, nada suaranya tetap cerah dan tenang.
“Kenapa tiba-tiba berhenti dan langsung gegabah nyerang orang?”
“Kita mana tau, Kael. Kirain dia orang lain yang ngikutin kita. Mukanya nggak keliatan.”
Mikael mengangguk pelan. Bukan membenarkan, tapi mencoba memahami alur kejadian. Ia menoleh ke tiga orang di kursi belakang.
Tatapannya penuh perhatian, seperti memastikan keadaan seseorang yang secara teknis baru saja melakukan kesalahan, namun tetap harus ia jaga.
“Kalian oke nggak?”
Tiga-tiganya langsung mengangguk, seperti anak-anak yang takut mengecewakan guru yang baik.
Mikael hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak menghakimi siapa pun.
Itulah jenis sikap yang membuat Darren memilihnya.
Perjalanan berlanjut beberapa menit dalam deru halus ban di aspal. Lalu ponsel salah satu orang di kursi belakang bergetar.
Ia segera mengangkatnya.
“Iya, bos. Ini lagi di jalan.”
Mikael hanya menoleh sekilas, kemudian kembali menatap ke depan, membiarkan percakapan itu mengalir.
“Tadi barusan ketemu Matthew,” ujar lelaki itu. “Kirain dia ngikutin kita, bos. Karena pakai helm, jadi nggak keliatan wajahnya, terus kita pukulin.”
Mikael mendengarkan tanpa komentar, hanya menghela napas kecil.
Semua terasa datar sampai suara dari kursi belakang berubah ragu, seperti baru saja menyadari sesuatu.
“Oh iya, Bos. Kayanya saya kenal wajah yang barusan bareng sama Matthew.”
Mikael menoleh sedikit.
“Dia orang yang lari sama Matthew waktu saya kejar di Astro.”
V.
Motor mereka sudah melaju beberapa menit ketika Yaziel mulai menangkap ada sesuatu yang tidak biasa.
Matthew mengendarainya lebih pelan dari biasanya.
Terukur, hati-hati, seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari belakang.
Yaziel menatap punggung Matthew, diam-diam memeriksa apakah lelaki itu masih kuat setelah dipukuli tadi.
Apa Matthew beneran baik-baik saja?
Bagaimana kalau tiba-tiba pingsan?
Bagaimana kalau kendaraan dari belakang—
Yaziel menarik napas, memotong pikirannya sendiri. Ia tahu kecemasannya sering berlari lebih cepat daripada kenyataan.
Di tengah keributan pikirannya, suara Matthew muncul pelan, hampir tersamar oleh angin malam.
“Makasih.”
“Hah?” Yaziel menoleh, agak terkejut karena suara itu nyaris tak terdengar.
“Makasih,” Matthew mengulang sekali lagi, lebih jelas.
“Iya, sama-sama,” jawab Yaziel, agak kaku.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, tapi kini terasa berbeda.
Dan karena jarak itu sudah diperkecil, satu pertanyaan akhirnya lolos.
“Lu… kenal orang-orang tadi?”
“Iya,” jawab Matthew singkat.
Yaziel hanya mengangguk mengerti. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi ia sadar batasnya.
Dari cara Matthew bergerak dan berbicara, jelas ada bagian hidupnya yang berada di luar jangkauan Yaziel.
Dan mungkin memang bukan urusannya.
Mungkin.
Beberapa menit kemudian, Yaziel mulai menyadari jalan yang mereka lalui semakin asing.
Lampu-lampu yang lewat tak lagi dikenalnya, dan arah ini jelas bukan rute pulang yang biasa.
“Ini kemana?”
“Beli helm,” jawab Matthew sederhana.
Yaziel terdiam.
Baru saat itu ia benar-benar memperhatikan helm yang masih ia pegang, lebih mirip sisa benturan daripada alat pelindung.
Tentu Matthew membutuhkan helm baru.
Tak lama kemudian, laju motor melambat. Matthew membelokkannya ke deretan ruko yang sebagian masih menyala.
Cahaya putih kekuningan menyinari aspal.
Di sebelahnya, sebuah bengkel masih hidup.
Suara besi beradu terdengar ritmis, seperti napas kota yang belum sepenuhnya mau tidur.
Matthew menghentikan motor tepat di depan salah satu toko.
Bagian depannya tampak sedikit berdebu.
Bukan debu kusam yang mengganggu, melainkan jejak wajar tempat yang akrab dengan oli, ban, dan tangan-tangan berminyak.
Matthew memarkir motor dengan gerakan pelan, lalu turun lebih dulu.
Yaziel menyusul turun, masih memegang helm rusak itu, menggenggamnya seperti benda yang tidak tahu harus ia letakkan di mana.
Dan entah kenapa dia juga nurut-nurut saja.
Matthew berjalan lebih dulu ke arah pintu toko, langkahnya mantap, tanpa menoleh sedikit pun.
Beberapa langkah kemudian, ia berhenti.
Ia baru menyadari Yaziel tidak langsung mengikutinya, masih berdiri di samping motor, memeluk helm rusak itu ke dadanya.
Ekspresinya terlihat lucu, bingung, seperti seseorang yang tak yakin apakah kehadirannya memang dibutuhkan.
Matthew menatapnya diam.
Yaziel berkedip sekali, mencoba membaca maksud dari tatapan itu.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Matthew hanya mendengus kecil.
Ia berbalik menghampiri Yaziel tanpa sepatah kata pun, lalu meraih pergelangan lengannya.
Yaziel tersentak kaget. Langkahnya sempat terseret sebelum akhirnya menemukan keseimbangan.
Tepat di ambang pintu, Matthew berhenti.
Pandangan matanya turun ke sebuah kotak besar di dekat dinding luar toko, tempat helm-helm rusak ditumpuk begitu saja.
Yaziel mengikuti arah tatapannya.
Matthew menoleh padanya.
Tidak ada perintah di sana, hanya tatapan singkat yang cukup jelas.
Tak perlu kata-kata, Yaziel langsung mengerti.
Ia melangkah ke kotak itu, lalu meletakkan helmnya dengan hati-hati, sebelum kembali berdiri di sisi Matthew.
Tanpa menunggu, Matthew mendorong pintu kaca dan masuk lebih dulu. Yaziel mengikuti dari belakang.
Begitu melangkah ke dalam, aroma oli dan karet langsung menyergap.
Tidak menusuk, tapi cukup kuat untuk mengingatkan bahwa Yaziel sedang memasuki ruang yang asing baginya.
Rak-rak tinggi berjajar di kiri dan kanan, penuh oleh peralatan mekanik yang tak dikenalnya.
Matthew melangkah di depan dengan santai, langkahnya mantap, seolah tempat itu bukan sekadar toko, melainkan ruang yang sudah lama ia kenal.
Yaziel mengikutinya, melewati meja kasir yang disinari cahaya putih kusam dari lampu neon tua.
Di balik meja itu, seorang pria sedang membereskan tumpukan kardus.
Begitu melihat Matthew, wajah pria itu langsung terbuka dalam senyum lebar.
“Eh, Matthew. Tumben malem-malem gini,” sapanya, suaranya berat tapi hangat.
“Mau nyari helm.”
“Rusak, ya?”
“Iya.”
Pandangan pria bernama Bobby itu turun sekilas ke pipi Matthew. Luka memanjang itu masih jelas terlihat.
“Kenapa tuh pipi?” tanyanya sambil tertawa ringan, bercampur penasaran. “Siapa lagi, Matt?”
“Anak Kardelos.”
“Gila lo, masih aja berurusan sama mereka. Mau gue cariin obat dulu nggak?”
“Nggak perlu. Aman,” jawab Matthew santai. Ia menolak dengan gerakan tangan singkat, seolah itu bukan hal yang perlu dipikirkan.
Yaziel berdiri sedikit di belakangnya, hanya mengamati. Percakapan itu terasa seperti potongan kehidupan yang tidak ia kenal.
Di titik itu, sepertinya Yaziel mulai mempercayai omongan Matthew yang mengaku dirinya mengenali semua orang.
Ya… gimana tidak.
Baru setelah itu, Bobby menoleh. Pandangannya akhirnya menangkap sosok yang berdiri di belakang Matthew.
Alisnya terangkat sedikit.
“Eh, itu siapa?”
“Temen gua,” jawab Matthew singkat.
Bobby mengangguk, lalu tersenyum ramah ke arah Yaziel.
“Halo, gue Bobby.”
“Iya, halo,” jawab Yaziel pelan, mengangguk kecil.
“Tumben lo nggak sama Jaden,” celetuk Bobby, ringan tapi terasa akrab.
Nama itu tentu langsung dikenali oleh Yaziel.
Dalam hati, ia sedikit terkejut. Rupanya nama Jaden juga dikenal di lingkaran orang-orang yang dekat dengan Matthew.
Tentu saja.
“Lagi ada masalah dia akhir-akhir ini,” jawab Matthew santai.
Bobby hanya mengangguk memahami, tanpa bertanya lebih jauh.
Percakapan pun berakhir begitu saja.
Sesuai tujuannya, Matthew melangkah ke sisi toko, menuju deretan rak helm yang berjajar rapi di sepanjang dinding.
Yaziel menyusul beberapa langkah di belakang, masih berusaha menyesuaikan diri dengan ruang yang terasa asing baginya.
Di depan rak, Matthew berhenti.
Ia mulai memilih.
Pandangan matanya menyapu deretan helm dengan cepat.
Hingga akhirnya ia berhenti pada sebuah helm hitam. Bentuknya tegas, sederhana, nyaris tanpa ornamen.
Matthew mengangkatnya sebentar, menimbang beratnya di tangan. Ia mengangguk kecil, seolah sudah menemukan yang ia cari.
Sesaat kemudian, Matthew menoleh ke arah Yaziel.
Tatapannya tidak naik ke mata, melainkan berhenti di kepala Yaziel, seperti sedang menghitung ukuran.
Hanya bertahan sepersekian detik, sebelum berpindah kembali ke rak. Tangannya meraih sebuah helm putih, lalu menyodorkannya begitu saja.
Yaziel menerimanya dengan raut bingung.
Belum sempat bertanya, Matthew sudah melangkah melewatinya, seolah tak ada penjelasan yang perlu diberikan.
“Ini buat siapa? Kok dua?”
“Nggak mau?” Matthew balik bertanya.
“Siapa tau nanti kita dibegal,” sambungnya ringan, seperti membicarakan cuaca.
Yaziel terdiam. Ia tidak yakin kalimat itu harus ditanggapi sebagai candaan atau peringatan sungguhan.
Padahal ia sendiri tahu, kalau Matthew sering asal bunyi.
Dengan pikiran yang masih berputar, mereka berjalan ke arah kasir.
Matthew menyelesaikan pembayaran sambil mengobrol singkat dengan Bobby, obrolan ringan yang mengalir begitu saja seperti orang-orang yang sudah lama saling mengenal.
Yaziel mengikuti, menyerahkan helm putih ke meja kasir tanpa banyak bicara. Ia tidak benar-benar menyimak percakapan itu.
Begitu urusan selesai, Yaziel memilih melangkah keluar lebih dulu. Ia tidak merasa punya kepentingan untuk ikut tinggal lebih lama di sana.
Di teras toko, angin malam menyambutnya. Dingin yang tidak terlalu menggigit, tapi cukup untuk membuat kulitnya merinding pelan.
Yaziel menarik lengan kemejanya, merapatkannya ke tubuh, lalu menggosok lengan atasnya perlahan, mencari hangat yang tak kunjung datang.
Syukurlah langit tidak hujan.
Hanya mendung berat yang menggantung, cukup untuk membuat udara malam terasa lebih dingin dari seharusnya.
Tak lama kemudian, pintu toko terbuka kembali.
Matthew muncul.
Dengan langkah santai, ia mengulurkan helm putih ke arah Yaziel.
Yaziel menoleh sekilas, lalu menerimanya tanpa banyak reaksi.
Mereka berjalan berdampingan menuju motor.
Sesampainya di sana, Matthew tidak langsung mengenakan helmnya. Ia hanya menggantungkannya di spion.
Tanpa aba-aba, ia meraih ujung hoodie hitam yang sejak tadi menempel di tubuhnya, lalu menariknya melewati kepala.
Yaziel terdiam melihat itu.
Ia tidak langsung menangkap maksudnya, hanya memperhatikan bagaimana Matthew melipat hoodie itu sekilas, lalu menyodorkannya ke arahnya.
Kain hitam itu ditekan ringan ke dadanya, menutupi helm yang peluk. Refleks, Yaziel menahannya agar tidak jatuh, jemarinya ikut mencengkeram kain itu.
Ia menatap Matthew dengan bingung, lalu menurunkan pandangannya ke hoodie yang kini berada di tangannya.
“Pake.”
Matthew sudah berbalik ke arah motornya. Ia meraih helm hitam miliknya dan memakainya, suaranya terdengar teredam dari balik pelindung yang belum sepenuhnya terkancing.
“Lu kedinginan kan?”
Yaziel terdiam. Ia tidak menjawab, hanya menatap Matthew dengan ekspresi yang masih bingung.
Setelah helmnya terpasang dengan benar, Matthew berbalik.
Tangannya terulur ke arah Yaziel, telapaknya terbuka.
“Siniin.”
Yaziel menurut, menyerahkan helm putih itu.
“Lu… emang nggak dingin?” tanyanya ragu.
“Nggak.”
Jawabannya cepat, datar, dan jelas-jelas tidak masuk akal bagi siapa pun yang baru saja melepas hoodie di malam sedingin ini.
Yaziel ragu sesaat, lalu menuruti Matthew dan mengenakan hoodie hitam itu.
Kainnya masih menyimpan sisa hangat tubuh Matthew, menempel samar di kulitnya.
Sejujurnya, sejak kejadian kemarin, ada yang berubah.
Ia tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi. Tapi entah bagaimana, ia mendapati dirinya selalu ingin menuruti Matthew.
Bahkan ketika ucapannya terdengar menyebalkan, tubuh Yaziel tetap bergerak lebih dulu, mengikuti tanpa banyak protes.
Kalau bukan karena kejadian mengerikan barusan, mungkin ia tidak akan berani berdiri sedekat ini dengan lelaki itu—memikirkan tentang apa yang terjadi di antara mereka semalam masih terlalu nyata di kepalanya.
Dan anehnya, ia merasa lebih berani dari sebelumnya.
Entah karena sisa adrenalin, atau karena tanpa disadari, jarak di antara mereka memang sudah mulai melunak.
Matthew sendiri tampak terlihat lebih tenang sekarang. Walau jujur saja sikapnya sekarang terlihat lebih seperti orang yang menahan amarah.
Tentu, itu bukan Matthew yang Yaziel kenali.
Ia belum tahu sisi Matthew yang ini.
Setelah Yaziel selesai mengenakan hoodie itu, Matthew menyodorkan helm putihnya lagi.
Yaziel menerimanya, tapi hanya menggenggamnya di depan dada. Ia tidak langsung memakainya, seolah benda itu kehilangan fungsi di tangannya.
Matthew sempat berbalik ke arah motor.
Lalu ia berhenti.
Ia melirik ke belakang, mendapati Yaziel masih berdiri di tempat yang sama, helm itu masih berada di tangannya.
Matthew menghela napas pendek, lalu kembali mendekat. Ia berhenti tepat di hadapan Yaziel.
Tanpa berkata apa pun, Matthew mengangkat kaca helmnya sendiri, meraih helm dari tangan Yaziel.
Dengan gerakan pasti, ia menempatkan helm itu di atas kepala Yaziel.
Yaziel menurut sepenuhnya, hanya berdiri diam, membiarkan Matthew mengatur semuanya.
Begitu helm itu terpasang, Matthew menunduk sedikit.
Matthew mencondongkan badan sedikit lebih ke depan, jarinya menuruni sisi helm, mencari tali pengait di bawah dagu Yaziel.
Karena perbedaan tinggi, gerakannya terasa kikuk, harus menyesuaikan posisi.
Yaziel menahan napas tanpa sadar.
“Pelan-pelan kenapa sih?” gerutunya kecil.
Matthew tidak menanggapi.
Fokusnya hanya pada strap, menariknya dengan gerakan cepat dan kencang, cukup untuk membuat Yaziel menggeser lehernya, merasa tidak nyaman.
Tiba-tiba, Yaziel menurunkan kaca helm Matthew yang masih terbuka.
Ia kesal, gerakan tangan Matthew di bawahnya mengganggunya.
Kaca itu turun, bunyi klik terdengar pelan.
Matthew berhenti.
Dalam satu gerakan tegas dan cepat, ia meraih bagian bawah helm Yaziel dan menariknya mendekat.
Kepala Yaziel otomatis terdorong ke atas, menyesuaikan tinggi Matthew. Napasnya tercekat, tubuhnya menegang, tapi ia tidak menolak.
Jarak mereka sekarang begitu dekat, hanya beberapa sentimeter.
Yaziel menelan napas, keberaniannya perlahan-lahan menipis.
Ia terpaku, menatap dari balik kaca helm dengan napas tertahan.
Matthew kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya mengaitkan strap dengan rapi, seolah tidak ada yang baru saja terjadi.
Yah, sepertinya kali ini Matthew tidak bisa di ajak bercanda.
Begitu strap terpasang, Matthew mengangkat wajah.
Pandangannya tertahan sepersekian detik. Yaziel tersembunyi di balik helm putih dan hoodie miliknya
Ada sesuatu yang berubah di matanya, hanya sepersekian detik, sebelum ia bertanya,
“Enak nggak?”
“Apanya?”
Matthew melangkah lebih dekat, memperbaiki posisi helm yang sedikit miring.
Telapaknya menepuk helm itu pelan. Ia menjawab santai, tanpa benar-benar menatap wajah Yaziel.
“Helmnya. Apalagi?”
Lalu ia langsung berbalik menuju motor, meninggalkan Yaziel yang masih mematung, mencoba mencerna maksud pertanyaan itu.
Matthew naik ke motornya dan menyalakan mesin. Dengung knalpot rendah memecah udara malam.
Ia menoleh sedikit, dagunya mengarah ke jok belakang.
“Naik.”
Yaziel segera menghampiri dan duduk di belakangnya.
“Pegangan, Zi. Jangan kayak tadi.”
Yaziel meraih ujung kaos Matthew, cukup untuk menuruti. Genggamannya ringan, masih menyisakan jarak kecil di antara mereka.
Matthew sempat melirik ke belakang lewat bahu, menarik napas pendek sebelum memutar gas.
Motor itu melaju.
Angin malam langsung menyerbu wajah mereka.
Dengan kecepatan stabil, Matthew membawa mereka menembus gelapnya jalanan malam, menuju apartemennya.
VI.
Sesampainya di unit apartemen, Yaziel memutar knop dan mendorong pintu masuk dengan pelan. Ia melepaskan helm, menaruhnya di rak kecil dekat pintu, lalu menukar sepatu dengan sandal rumah yang tersusun rapi di sisi karpet.
Sambil merapikan posisi sandalnya, ia bertanya tanpa menoleh.
“Mami lu kemana?”
“Udah pulang,” kata Matthew sembari menutup pintu di belakangnya.
“Oh...”
Yaziel hanya menanggapinya singkat. Ia berjalan ke ruang tengah dan merebahkan diri pada sandaran sofa.
Matthew masih berdiri di batas antara area pintu dan ruang tengah. Ia menyandarkan bahunya pada dinding, pandangannya jatuh ke arah Yaziel.
“Yazi.”
Yaziel menoleh dari sofa, sekadar mengangkat dagu sedikit.
“Apa?”
“Mandi nggak?”
“Kalau lu mau mandi duluan gapapa,” jawab Yaziel menawarkan.
“Lu duluan.”
Yaziel sempat terdiam, cukup lama untuk mempertimbangkan.
Akhirnya ia memilih bangkit mengambil tasnya, lalu menuju kamar, mengingat ada meeting online yang tak lama lagi akan dimulai.
Beberapa saat kemudian, suara air terdengar dari balik pintu kamar mandi, mengalir pelan mengisi ruang.
Di dalam kamar mandi, udara dipenuhi uap dan aroma sabun. Air hangat menyentuh kulit Yaziel, seharusnya menenangkan. Namun pikirannya justru bergerak ke arah lain.
Potongan kejadian malam ini muncul satu per satu.
Matthew yang tiba-tiba menariknya mendekat saat memasangkan helm.
Gerakannya yang tenang, tegas, seolah jarak dan situasi sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Tidak ada keraguan.
Lalu pikirannya berbelok ke hal yang jauh lebih mengusik.
Kenapa Matthew hanya diam saat dikeroyok?
Yaziel merasa ia cukup jeli membaca orang. Dari caranya berdiri, dari tatapan dan posturnya, Matthew tampak seperti seseorang yang tahu bagaimana membela diri.
Tentu saja dia bukan tipe yang membiarkan dirinya diinjak begitu saja.
Jadi kenapa tidak?
Apa Matthew sempat melawan, tapi ia tidak melihatnya?
Atau justru ada sesuatu yang terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar, saling menumpuk, membuat kepalanya terasa penuh, meski air hangat terus mengalir membasahi tubuhnya.
Pikirannya tiba-tiba mundur ke kejadian kemarin.
Sentuhan yang terlalu dekat untuk sekadar kecelakaan, tubuh mereka yang sempat saling bertabrakan, cara napas Matthew menyentuh lehernya.
Yaziel mengembuskan napas keras, menyandarkan punggung ke dinding kamar mandi.
Pipinya terasa memanas hanya dengan mengingatnya.
Lalu kesadaran itu datang.
Matthew sedang menunggu di luar.
Dan masih ada meeting yang harus ia hadapi. Yaziel tidak ingin membiarkan pikirannya mengelabuhinya malam ini.
Ia mempercepat mandinya.
Air hangat belum sepenuhnya hilang dari kulitnya saat ia buru-buru mengenakan baju, merapikan rambutnya seadanya, lalu melangkah menuju pintu.
Ia membukanya.
Begitu pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti.
Matthew berdiri tepat di depannya, terlalu dekat untuk disebut kebetulan, seolah ia memang menunggu di titik itu sejak awal.
Yaziel tersentak.
Tubuhnya refleks mundur setengah langkah, nyaris menabrak dada lelaki itu.
Napasnya tertahan di tengah, tercekat oleh kehadiran lelaki itu yang muncul begitu saja.
Ia hanya menatap Yaziel.
Tatapan lurus, tenang, dan entah kenapa terasa lebih berani dari Matthew yang selama ini ia kenal.
Tidak ada rasa ragu di sana.
Tidak ada kecanggungan yang biasanya terselip di wajahnya.
Hanya keheningan yang mantap, seolah Matthew sepenuhnya sadar akan posisinya dan tidak berniat mundur.
Kesadaran itu justru membuat Yaziel gugup, dan tak berani menatap wajah itu terlalu lama.
Ia ingin melangkah keluar, namun tubuh Matthew berdiri tepat di jalurnya.
Tidak benar-benar menghalangi, tapi cukup dekat untuk membuat jarak di antara mereka menyempit.
Pikiran Yaziel mulai berlari ke arah yang tidak ia inginkan, membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
Jantungnya berdetak kencang, dan ia membenci dirinya sendiri karena membiarkan bayangan sentuh menyentuh itu terbentuk.
Namun Matthew bergerak, meruntuhkan bayangan-bayangan yang sempat Yaziel pikirkan.
Tanpa komentar, tanpa perubahan ekspresi, ia bergeser ke samping, membuka jalan dengan gerakan sederhana.
Yaziel terdiam sepersekian detik, lalu melangkah keluar dengan ragu, melewati Matthew seolah masih belum sepenuhnya percaya bahwa momen itu benar-benar berakhir begitu saja.
Matthew langsung masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup di belakangnya, ia tidak menoleh sedikit pun.
Yaziel berhenti di tempatnya.
Ada sesuatu yang terasa ganjil.
Bukan karena apa yang hampir terjadi, melainkan karena Matthew terasa berbeda dari yang ia kenal.
Bukan lagi sosok yang malu-malu, bukan pula yang kikuk saat jarak mereka terlalu dekat.
Matthew justru lebih diam.
Lebih tertutup.
Yaziel berdiri beberapa detik, pikirannya berputar mencari celah penjelasan yang tak ia miliki.
Apakah ini karena kejadian tadi?
Atau ada sesuatu lain yang terjadi hari ini, sesuatu yang tidak ia ketahui?
Ia menghela napas pendek, jawaban yang ia cari tak kunjung muncul. Pikiran itu berputar tanpa henti, hingga ingatannya tertambat pada wajah Matthew yang terluka tadi.
Tanpa menunggu lama, Yaziel bergegas ke kamarnya. Ia membuka tas, mengobrak-abrik isinya, lalu mengambil antiseptik, kapas, dan salep.
Dengan perlahan, Yaziel membawa perlengkapan itu ke ruang tamu.
Ia duduk di sofa, meletakkannya di meja kecil di depannya. Televisi ia nyalakan, sekadar untuk mengisi kekosongan.
Punggungnya sempat bersandar, lalu ia kembali menegakkan tubuh. Napas ia embuskan perlahan. Jari-jarinya saling menaut sejenak sebelum akhirnya dilepaskan lagi.
Sesekali, pandangannya bergeser ke arah pintu kamar mandi.
Masih tertutup.
Detik terasa memanjang, air masih terdengar mengalir samar dari balik pintu.
Yaziel menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan lagi ke layar televisi.
Setelah penantian yang terasa terlalu lama, pintu kamar mandi akhirnya terbuka.
Yaziel menoleh.
“Mat—”
Suara itu terhenti begitu saja.
Tubuh Yaziel langsung kaku, jantungnya berdetak cepat seolah baru saja tersengat listrik.
Matthew keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit rendah di pinggangnya. Rambutnya masih basah, air menetes pelan ke kulitnya yang mengilap di bawah cahaya lampu.
Tubuhnya terlihat tegas, proporsional, dan entah kenapa membuat Yaziel merasa terpaku di tempatnya.
Kesadarannya baru kembali beberapa detik kemudian.
Dengan gerakan kikuk, ia memalingkan wajah, menatap layar televisi yang tak benar-benar ia lihat. Napasnya sedikit tersendat, dadanya terasa sempit oleh irama jantungnya sendiri.
Kenapa nggak bawa baju ke kamar mandi sih…
“Kenapa, Zi?” tanya Matthew, bibirnya tersenyum tipis.
“Luka lu,” jawab Yaziel ragu, ia menelan napas, tidak berani menoleh ke sumber suara.
“Kenapa?”
“Mau ngobatin?” lanjutnya.
“Iya,” jawab Yaziel.
“T-tapi… lu pake baju dulu…” tambahnya pelan, hampir tenggelam oleh gugupnya sendiri.
Matthew menahan gemas, lalu melangkah masuk kembali ke kamar dengan santai, meninggalkan Yaziel sendirian di ruang tamu.
Begitu pintu kamar terdengar tertutup, Yaziel menoleh perlahan, memastikan Matthew benar-benar sudah masuk.
Napasnya keluar pelan, pipinya terasa panas.
Dengan refleks setengah kesal, setengah malu, ia menampar ringan wajahnya dan mengumpat lirih pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, pintu kamar Matthew terbuka lagi . Matthew keluar dengan pakaian yang sudah menempel di tubuhnya dan langsung berjalan ke arah sofa tempat Yaziel duduk.
Yaziel menegakkan punggung tanpa sadar.
Saat Matthew mendekat dan menatapnya, ia segera menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberi ruang.
Ia duduk di sebelahnya, menyender santai, sambil memandang Yaziel yang kini sibuk menyiapkan antiseptik dan kapas di atas meja.
Tangan Yaziel bergetar tipis saat ia mengambil kapas. Tanpa perlu menoleh ia tahu, bahwa Matthew sedang memerhatikannya.
Ia mencoba fokus, memaksa dirinya terlihat tenang, meski detak jantungnya tak sepenuhnya menurut.
Matthew menyandarkan kepala ke sofa, ekspresinya tetap datar, tapi matanya mengikuti setiap gerak kecil Yaziel.
“Bokong lu panas juga ya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja dari mulut Matthew.
Yaziel tersentak, hampir tersedak air ludahnya sendiri. Bagaimana tidak, Matthew menempati bagian sofa yang tadi ia duduki, tentu saja panas tubuh Yaziel menempel ke sofa yang sempat Yaziel duduki.
Tubuh Yaziel membeku sejenak. Ia menunduk, mencoba menenangkan diri, sementara Matthew hanya tersenyum tipis, tenang, seolah menikmati efek dari ucapannya.
Malam itu, setiap gerakan dan kata Matthew terasa lebih berat, dan Yaziel sadar bahwa kehadiran lelaki itu mampu membuatnya gugup hanya dengan duduk di sampingnya.
Ia tidak membalas apa pun.
Yaziel memilih diam, memusatkan diri pada kapas dan botol antiseptik di tangannya, seolah dengan begitu ia bisa menahan pikirannya agar tidak melayang ke mana-mana.
Beberapa detik berlalu dalam hening yang canggung.
Akhirnya, dengan ragu, Yaziel berbalik menghadap Matthew.
Gerakannya pelan, hampir berhati-hati, seperti takut jarak sekecil apa pun bisa memicu sesuatu yang tidak siap ia hadapi.
Ia menuangkan cairan bening ke kapas, lalu mengangkat tangannya.
Kapas itu diarahkan ke wajah Matthew, menyentuh pipinya dengan lembut.
Matthew tidak bergerak.
Ia hanya menatap Yaziel, tatapannya tenang, dalam, dan terlalu lama.
Ada kekaguman di sana, atau sesuatu yang mendekatinya, membuat Yaziel sadar akan mata itu bahkan tanpa menoleh langsung.
Ia mengetahuinya.
Yaziel memilih acuh, pandangannya tetap tertuju pada luka di pipi Matthew. Jemarinya bekerja hati-hati, seolah fokus itu satu-satunya cara agar jantungnya tidak terdengar terlalu keras.
Namun jarak di antara mereka membuat gerakannya kikuk.
Yaziel ragu sesaat.
Lalu, hampir tanpa berpikir lebih jauh, ia mendekat.
Dengan satu langkah kecil, bahu mereka hampir bersentuhan. Napas Matthew kini terasa lebih jelas, hangat di udara yang sempit di antara mereka.
Yaziel tahu ini berisiko. Terlalu dekat, terlalu mudah berubah arah, tapi ia membiarkan dirinya tetap di sana.
Toh, pikirnya, kemarin pun mereka sudah melewati batas yang sama.
Jika hal itu terjadi lagi, ia hanya perlu menghadapinya.
Dengan tangan yang sedikit lebih stabil, Yaziel melanjutkan mengoleskan salep, menyentuh kulit Matthew dengan hati-hati.
Ia berusaha tetap tenang meski jantungnya tidak pernah benar-benar mengikuti logika yang sama.
Tegangan naik perlahan, mengental di udara. Sunyi di antara mereka menjadi berat, dipenuhi hal-hal yang tidak diucapkan.
“Yaziel.”
Namanya diucapkan pelan, suara Matthew rendah dan serak, seperti datang dari dada yang terlalu penuh.
Yaziel menelan napas, tetap menatap luka di pipi itu, seolah sedikit saja ia mengalihkan pandangan, semuanya akan runtuh.
“Apa?” jawabnya pelan, sambil menggerakkan kapas di kulit Matthew dengan hati-hati.
Matthew mengatur napasnya.
“You’re dangerous for me.”
Ada jeda singkat, berupa hening yang terasa lebih berat dari kata-kata. Sebelum suaranya kembali terdengar.
“But don’t turn that danger on yourself because of me, ya?”
Ucapan itu tidak terdengar seperti peringatan.
Tidak juga seperti larangan.
Lebih menyerupai pengakuan yang lama disimpan, dan akhirnya terucapkan.
Yaziel terpaku.
Matanya tidak berani menatap tatapan itu.
Tangannya masih terangkat, berhenti di udara seolah tubuhnya lupa bagaimana menurunkannya.
Kalimat itu datang terlalu tiba-tiba.
Ia belum siap mendengar sesuatu seperti itu dari Matthew
Belum siap menyadari bahwa kata-kata itu diarahkan padanya.
Perlahan, Yaziel mengangkat pandangan.
Mata mereka bertemu.
Tatapan Matthew tidak tajam.
Tidak menekan, justru lelah, sayu, dan membuat dada Yaziel menghangat sekaligus menciut, seolah lelaki di hadapannya sedang membuka sesuatu yang biasanya ia jaga rapat.
Matthew mengalihkan pandangannya lebih dulu, turun ke lengan Yaziel yang masih terangkat kaku di antara mereka.
Tangannya bergerak pelan, meraih pergelangan itu. Sentuhannya tidak keras, hanya cukup untuk membuat Yaziel sadar akan kehadirannya.
Kulit mereka bersentuhan.
Yaziel menghirup napas pendek tanpa sadar. Ada getaran halus yang menjalar dari titik sentuh itu, naik ke lengannya, menetap di dadanya.
“Your wrist,” gumam Matthew pelan.
Suaranya rendah, lebih terdengar seperti pikirannya sendiri yang lolos, daripada kalimat yang sengaja diarahkan.
Ibu jarinya bergerak.
Satu usapan lambat, nyaris tak terasa, menyusuri kulit lengan Yaziel.
“Always this soft?”
Yaziel menelan ludah.
Ia tidak menarik tangannya.
Tidak juga membalas sentuhan itu.
Ia hanya diam, membiarkan jantungnya berisik.
Napasnya terasa dangkal, terputus-putus, dan ia membenci betapa mudah tubuhnya bereaksi.
Matthew berhenti mengusap.
Tapi tangannya tidak pergi.
Ia kembali mengangkat wajah.
Menatap Yaziel.
“Yaziel…”
Namanya meluncur pelan, berat, seolah membawa bobot yang tidak bisa lagi disembunyikan.
“You wanna know what still messes with my head?”
Yaziel tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu dari cara Matthew menatapnya, tatapan yang tidak mencari jawaban, melainkan izin untuk mengaku.
“That I once thought about hurting you.”
Yaziel membeku.
Kalimat itu tidak langsung ia pahami.
Terlalu tiba-tiba.
Terlalu bertentangan dengan sosok Matthew yang biasa ia kenal.
“You have no idea how scared I was when you suddenly showed up there, Yaziel.”
Bagi Matthew, kejadian tadi menyeret pikirannya kembali ke tempat yang selama ini ia hindari.
Ia sadar betapa mudahnya masalah dalam hidupnya menjalar ke orang lain, menarik mereka ikut tenggelam tanpa pernah ia niatkan.
Dan kemungkinan itu terasa paling menakutkan saat ia menyadari siapa orangnya.
Yaziel.
Hal Itu membuat Matthew teringat pada satu momen lain, dimana ia hampir memperlakukan Yaziel dengan kasar, hanya karena cemburu yang tak ia pahami sepenuhnya.
Perasaan yang muncul terlalu cepat terhadap seseorang yang bahkan ia sendiri belum tahu apakah ia melakukan itu karena benar-benar cinta, atau hanya takut kehilangannya.
Pikiran itu berubah menjadi ketakutan, lalu penyesalan.
Dan akhirnya, rasa bersalah yang tidak bisa lagi ia abaikan.
Matthew menunduk sedikit. Bahunya mengendur, seolah beban itu akhirnya menemukan jalan keluar.
Ketika ia bicara lagi, suaranya merendah.
“I’m sorry, Zi.”
“For the moment I almost let my anger touch you.”
“I should’ve never even thought about it.”
Yaziel tidak menjawab.
Terlalu banyak hal berdesakan di dadanya.
Kata-kata yang ingin keluar tertahan di tenggorokan, seolah tidak satu pun kata yang cukup tepat untuk diucapkan saat ini.
Pandangan Yaziel jatuh ke lengan Matthew yang masih menggenggamnya.
Genggaman itu tidak kuat, tapi cukup untuk terus mengingatkannya akan jarak yang tersisa di antara mereka.
Matthew perlahan mengangkat wajahnya kembali.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada kata.
Tidak ada gerakan tergesa.
Hanya diam yang terasa terlalu penuh.
Tiba-tiba, lengan yang sejak tadi berada dalam genggaman Matthew ditarik pelan. Bukan dengan kasar, tapi cukup untuk memangkas jarak di antara mereka.
Yaziel tersentak.
Napasnya tercekat sepersekian detik sebelum ia menyadari betapa dekatnya mereka sekarang.
Terlalu dekat.
Ia bisa merasakan napas Matthew—hangat, berat—beradu dengan ritme napasnya sendiri yang mulai kacau.
Dadanya naik-turun, jantungnya berdetak keras, seolah tak peduli apakah Matthew bisa mendengarnya atau tidak.
Matthew menatapnya dalam-dalam.
Tatapan itu tidak meminta izin.
Tapi penuh, tertahan, seakan ada sesuatu di sana yang berusaha keras agar tidak tumpah begitu saja.
Yaziel ingin mengatakan sesuatu.
Apa saja.
Tapi semua kata terasa salah urutannya.
Yang tersisa hanya sensasi di tubuhnya sendiri, degup jantung, dan panas yang merambat naik karena sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami.
Lalu Matthew bergerak.
Kepalanya jatuh ke bahu Yaziel, dan napasnya menghantam dadanya dari jarak yang nyaris tak menyisakan ruang.
Yaziel membeku.
Panas menjalar cepat.
Bukan hanya di wajahnya.
Tapi ke seluruh tubuhnya.
Ia bisa merasakan setiap hembusan napas Matthew, setiap pergeseran kecil, dan itu membuatnya semakin sulit berpura-pura tenang.
Pipinya memanas.
Dadanya terasa sempit.
“Say something, Yaziel…”
“I can’t breathe when you just stay quiet like that.”
Suara Matthew terdengar pelan, serak, seperti bisikan yang tertahan.
Yaziel menelan ludah.
Pikirannya berputar cepat, mencoba menyusun kata yang tidak terdengar bodoh.
Terlalu banyak yang ingin ia tanyakan.
Terlalu banyak yang ingin ia pastikan.
Akhirnya, dengan suara yang nyaris ragu, ia bertanya.
“Do you like me?”
Kata-kata itu jatuh begitu saja.
Yaziel sendiri kaget mendengarnya keluar dari mulutnya, seolah kata-kata itu lolos sebelum sempat ia saring.
Matthew tidak langsung menjawab.
Pandangan lelah sayu itu bergerak perlahan menyusuri wajah Yaziel, seolah ia sedang membaca sesuatu dari jarak sedekat ini.
Lalu tatapan itu berhenti.
Tepat di mata Yaziel.
“I don’t know…”
“It’s not clear enough for you?” tanyanya lagi, dengan suara rendah.
Tatapan mereka kembali terkunci.
Kali ini lebih lama.
Lebih dalam.
Ada sesuatu di mata Matthew.
Bukan senyum, bukan godaan kosong, melainkan kesabaran yang berbahaya, seolah ia memberi waktu sebelum melangkah lebih jauh.
“Do I have to make it clearer, Yaziel?”
Pertanyaan itu tidak perlu dijelaskan.
Yaziel sudah tahu maksudnya.
Matanya berkedip pelan, seakan ia butuh satu detik tambahan hanya untuk mengumpulkan sisa keberanian yang ada.
Yaziel mengangguk.
Persetujuan itu nyaris tanpa suara, namun cukup untuk menggeser sesuatu di antara mereka.
Udara terasa berubah, menegang dengan cara yang sulit dijelaskan.
Matthew mendekat.
Perlahan.
Hampir ragu.
Seolah ia sendiri sedang menimbang batas terakhir sebelum semuanya pergi terlalu jauh.
Jarak di antara wajah mereka menyempit sedikit demi sedikit, sampai kata dekat tak lagi cukup.
Yaziel bisa merasakan napas Matthew yang hangat, menyentuh kulitnya, mengacaukan ritme napasnya sendiri.
Bibir Matthew berhenti tepat di depan bibirnya.
Tidak menyentuh.
Tidak juga mundur.
Ia terdiam di sana, menahan diri.
Ada sesuatu yang bergejolak, sebuah kebingungan yang menekan dari dalam.
Ia seperti sedang beradu dengan pikirannya sendiri.
Ia belum pernah melakukan ini.
Bukan dengan siapa pun.
Detik itu memanjang, menggantung di antara mereka.
Lalu, tanpa peringatan, Matthew mendorong Yaziel ke belakang.
Yaziel tersentak, napasnya terputus sesaat oleh keterkejutan.
Matthew menyusul, menahan diri di atasnya.
Ia tidak sepenuhnya menekan, tapi cukup dekat untuk membatasi ruang gerak Yaziel.
Posisi mereka berubah total.
Yaziel terbaring, Matthew di atasnya.
Dari sudut itu, Matthew menatapnya lama, seolah ingin menghafal setiap detail yang bisa ia tangkap.
Tatapannya intens, penuh gairah. Dada Matthew naik-turun dengan napas berat melalui mulutnya yang terbuka.
Keheningan di antara mereka menegang, dipenuhi napas yang saling bersinggungan, berat dan tak beraturan.
Detik berlalu terlalu lambat, seolah memberi waktu bagi keraguan untuk tumbuh.
Matthew menunduk perlahan.
Bibir itu tidak mencari mulutnya.
Ia menuruni lekuk leher, menyentuh tepat di bawah rahang.
Sebuah kecupan singkat yang nyaris terasa seperti uji coba, sebelum berubah menjadi rangkaian sentuhan yang lebih dalam, lebih yakin.
Yaziel tersentak pelan, lalu mendongak tanpa sadar, memberikan ruang.
Bahunya menegang, lalu melonggar, napasnya berantakan.
Sebuah suara kecil lolos dari tenggorokannya.
“Hn-“
Matthew melakukannya dengan tergesa, seolah takut kehilangan momen jika ia berhenti terlalu lama.
Bibirnya menyentuh kulit terlebih dulu, hangat, lalu bergerak perlahan mengikuti garis leher itu.
Ada sentuhan lembut yang menyusuri.
Ia mengecupnya, lalu berpindah sedikit, mengulanginya di titik lain.
Setiap sentuhan terasa disengaja, seolah Matthew sedang memetakan leher itu tanpa ragu.
Napasnya menyapu kulit di sela-sela kecupan, membuat sensasinya menetap lebih lama dari yang seharusnya.
Yaziel menggeliat pelan, jari-jarinya mencengkeram kain di sisi sofa, napasnya putus-putus.
“Ma-Matthew…”
“Nngh…ahh…”
Nada suaranya rendah, nyaris pecah.
Jari-jari Yaziel meremas kain baju Matthew di punggungnya.
Ia menggeliat, punggungnya Yaziel melengkung tipis, refleks tubuh yang muncul saat sentuhan itu tak kunjung berhenti.
Matthew menurunkan satu tangannya ke pinggangnya, jemarinya bertahan di sana.
Sentuhan itu cukup untuk membuat napas Yaziel semakin berantakan.
Ketika tangannya bergerak berusaha mencari pegangan, Matthew menangkapnya di tengah gerakan.
Satu tangan Matthew melingkar di pergelangan kedua tangan Yaziel, mengangkatnya perlahan ke atas kepala.
Gerakan itu terasa penuh kendali, membuat tubuh Yaziel justru semakin lemah.
Matthew kembali menunduk.
Kecupan itu berpindah dari leher ke sisi telinga, lalu turun lagi ke tulang selangka.
Seolah ia sedang mempelajari reaksi yang muncul setiap kali bibirnya menyentuh kulit itu.
Yaziel hanya bisa menggeliat di bawahnya, napasnya terputus-putus.
“Hngh…hhh…”
Suara itu lolos lagi, lebih tak terkontrol. Kepalanya miring tanpa sadar, memberinya ruang, sementara dadanya naik turun cepat.
Bip… bip… bip…
Lalu, bunyi ponsel di meja memecah keheningan.
Namun Matthew tidak bereaksi.
Ia masih menunduk, terlalu tenggelam pada momen di hadapannya untuk menyadari apa pun di luar itu.
“Hngh… hahh… Matthew… bentar…”
“M-Matth…”
“Bentar… hngh… ada telepon…”
Matthew akhirnya mengangkat wajahnya perlahan, mencoba sadar.
Napasnya masih berat.
Tatapan mereka bertemu dan tertahan sejenak, meninggalkan jejak ketegangan yang baru saja meluap.
Matthew menangkap sesuatu di mata Yaziel, seperti permohonan bahwa lelaki di bawahnya itu sedang meminta waktu.
Ia juga baru tersadar akan sesuatu.
Ini bukan waktu yang tepat untuk itu.
Dengan gerakan cepat, Matthew melepaskan tangan Yaziel yang tadi terangkat di atas kepalanya. Ia langsung duduk di sofa, menarik diri, memberi ruang menjauh dari tubuh Yaziel.
Yaziel buru-buru bangkit, menepi ke meja, dan mengangkat telepon.
“H-halo, Pak…” Suaranya terdengar sedikit terbata-bata, tapi tetap profesional.
Di seberang, Pak Hugo menanyakan mengapa Yaziel belum bergabung dalam meeting online, nada suaranya profesional tapi ada sedikit kekhawatiran yang lembut, seperti mengingatkan tanpa menekan.
Yaziel mengangguk, menjawab cepat.
“Ah, iya, Pak Hugo… saya akan langsung bergabung…”
Yaziel menjawab cepat, suaranya berusaha profesional, meski napasnya belum sepenuhnya stabil. Tangannya sedikit mengencang di sekitar ponsel, matanya melirik ke arah sofa.
Matthew masih di sana.
Duduk diam, punggungnya sedikit bersandar, seolah sedang menata ulang dirinya sendiri.
Tatapannya tertuju pada Yaziel, menyadari ada sesuatu yang belum sempat ia lepaskan.
Di sisi lain, ada rasa tidak enak yang tiba-tiba menyelinap ke dada Yaziel.
Lagi-lagi mereka harus berhenti di tengah jalan.
Lagi-lagi momen itu diputus.
Bukan karena keinginan.
Tapi keadaan.
Setelah panggilan berakhir, Yaziel tak memberi dirinya waktu untuk ragu. Ia segera berbalik dan melangkah cepat menuju kamar, hampir seperti melarikan diri dari atmosfer yang masih terasa panas di ruang tamu.
Pintu kamarnya menutup, menyisakan keheningan yang terasa terlalu padat di bagian ruang tamu.
Matthew sempat bangkit.
Satu langkah.
Lalu berhenti.
Tangannya turun, dan ia kembali duduk di sofa, mengacak rambutnya dengan gerakan frustasi.
Pandangannya sekilas jatuh ke arah pintu kamar yang tertutup, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang berputar tanpa jawaban.
Apakah Yaziel menjauh lagi?
Atau justru dia sendiri yang melangkah terlalu jauh?
Tubuhnya masih tegang, sisa adrenalin dan keinginan belum sepenuhnya mereda.
Ia menghembuskan napas panjang, pasrah menatap gundukan yang menonjol di bagian celananya.
Nasib, nasib.
Tiba-tiba, pintu kamar Yaziel kembali terbuka.
Yaziel muncul dengan ponsel masih menempel di telinganya, suara percakapan mengalir pelan sebelum sosoknya benar-benar masuk ke ruang tamu.
Satu tangannya memegang laptop. Langkahnya cepat tapi terukur, seolah ia sudah memutuskan sesuatu di tengah jalan.
“Iya, Pak... saya dengar.”
Matthew mendongak.
Alisnya sedikit berkerut, ia tidak menyangka Yaziel kembali.
Dengan laptop pula.
Yaziel melangkah mendekat, menaruh benda itu di meja rendah di depan sofa, masih setengah terhubung dengan suara di seberang
Beberapa kalimat pendek terucap, formal, terkendali.
Lalu telepon dimatikan.
Hening jatuh perlahan di antara mereka.
Alih-alih duduk di sofa, Yaziel justru menurunkan dirinya ke lantai, tepat di depan meja
Gerakannya ragu-ragu, seperti orang yang sedang mencari posisi paling aman.
Matthew memperhatikannya beberapa detik, sebelum akhirnya bertanya.
“Kenapa?”
“Ada meeting online…” jawab Yaziel sambil menoleh.
Wajahnya tampak murung, merasa bersalah.
Ia menunduk.
“Sorry…”
Matthew menghembuskan napas kecil, bukan kesal, lebih seperti menerima.
“Gapapa, you don’t have to,” jawabnya lembut.
“Mau meeting di sini?” lanjutnya.
“Iya… gua… nggak enak kalau harus ninggalin lu lagi.”
“So you notice it ya haha,” kata Matthew, sambil tersenyum setengah menggoda.
“Maaf…”
“It’s okay. Mau minum?”
“Eumm,” gumamnya sambil mengangguk.
Matthew langsung bergerak ke arah dapur, meninggalkan Yaziel di lantai dengan laptop yang mulai menyala.
Yaziel melirik televisi yang masih menyala. Ia meraih remote, mematikannya.
Lalu perhatiannya kembali ke layar kecil di depannya.
Satu per satu wajah muncul.
“Hai, Yaziel.”
Suara Aidan terdengar lebih dulu.
“Kok kamu baru join?”
“Iya, hehe, hampir lupa.”
“Kamu pulang sendirian, kan? Kamu nggak apa-apa?”
“Iya, Kak. Nggak apa-apa.”
Dari dapur, Matthew sempat berhenti sejenak. Ia memperhatikan pemandangan itu sambil meneguk air.
Nada suara Yaziel yang terdengar stabil, profesional, nyaris dingin.
Sangat kontras dengan bagaimana beberapa menit lalu tubuh itu masih gemetar di bawah sentuhannya.
Ada sesuatu di kontras itu yang membuat dada Matthew mengencang.
Ia menahan napasnya sendiri, lalu mengembuskannya pelan, seolah sedang merapikan pikirannya.
Matthew mengambil satu gelas lagi, mengisinya, lalu melangkah kembali ke ruang tamu.
Tanpa bicara, Matthew meletakkan gelas itu di meja, tepat di samping laptop.
Yaziel melirik sekilas, cukup untuk melihat tangannya.
“Makasih…” katanya pelan, hampir tak terdengar.
Matthew hanya mengangguk.
Obrolan di laptop terus mengalir.
Suara-suara formal, potongan diskusi yang saling tumpang tindih, istilah-istilah yang terdengar berulang dan datar.
Matthew tidak ikut masuk ke dalamnya. Ia hanya duduk, mendengar setengah-setengah.
Beberapa detik berlalu.
Yaziel menekan tombol mute.
Ia menoleh sedikit ke arah Matthew, nyaris tanpa mengangkat kepala. Suaranya rendah, masih selembut tadi, seolah tidak ingin memecah suasana yang sudah sunyi.
“Nggak ke kamar?”
Matthew meliriknya.
“Nggak,” jawabnya.
“Gapapa, gua temenin.”
Yaziel tidak langsung menanggapi.
Namun ada perubahan halus di wajahnya, bahunya sedikit mengendur, garis tegang di antara alisnya melembut, seperti seseorang yang diam-diam merasa dijaga.
Ia kembali menghadap laptop.
Meeting berlanjut.
Matthew mendengarkan lagi, kali ini sambil menyandarkan punggungnya sedikit.
Dari potongan percakapan, ia menangkap rencana, jadwal, sesuatu tentang lapangan dan survei.
“Besok mau ke mana?” tanyanya pelan.
Yaziel menjawab tanpa menoleh, matanya tetap ke layar.
“Itu… gua ada survei.”
“Oh, sampai kapan?”
“Cuma besok kok,” jawab Yaziel cepat, tetap fokus pada layar.
Matthew mengangguk pelan.
Tidak ada komentar, tidak ada reaksi berlebihan.
Diam-diam, ada rasa lega yang menyusup.
Ia bersyukur bahwa perpisahan itu hanya besok.
Hanya satu hari.
Bukan lebih.
Setelah cukup lama, meeting itu akhirnya berakhir. Namun pekerjaan Yaziel belum selesai.
Jemarinya kembali bergerak di atas keyboard, membuka dokumen lain. Wajahnya serius, tenggelam sepenuhnya dalam layar.
Matthew tetap duduk di pojok sofa.
Seiring waktu, bahunya perlahan mengendur.
Kelopak matanya terasa berat.
Ia menyandarkan punggung, melipat tangan di dada. Napasnya yang semula terjaga mulai merata, lalu semakin dalam.
Kepalanya sedikit menunduk tanpa ia sadari.
Matthew tertidur di sana.
Beberapa menit kemudian, Yaziel menyadarinya.
Ia melirik ke arah sofa dan mendapati Matthew sudah terlelap. Senyum kecil muncul tanpa sadar, bercampur rasa bersalah.
Seharusnya Matthew bisa tidur di kamar.
Seharusnya ia tidak perlu menunggu seperti ini.
Pikiran itu menghangatkan dadanya, sekaligus meninggalkan rasa tidak enak yang samar.
Namun Yaziel tidak membangunkannya. Ia hanya kembali menatap layar, menurunkan volume suara, memperlambat setiap gerakan.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Matthew terbangun tanpa benar-benar menyadari kapan ia tertidur, duduk tegak di sofa sejenak sambil menyesuaikan pandangannya dengan cahaya redup ruang tamu.
Pandangannya bergerak lambat, lalu berhenti di meja.
Yaziel.
Lelaki itu tertidur.
Kepalanya tertunduk di atas lengan, napasnya teratur. Wajahnya tampak jauh lebih lembut dibanding saat terjaga.
Layar laptop telah meredup dengan dokumen di atasnya yang masih terbuka.
Ada ketenangan dalam cara Yaziel tertidur, seolah dunia akhirnya memberinya jeda.
Matthew sempat terpikir untuk menggendongnya, tapi begitu menyentuh tubuhnya, Yaziel merengek, seakan menolak.
Matthew tidak ingin membangunkannya.
Dengan gerakan terukur, Matthew bangkit perlahan.
Ia mengangkat tubuh dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara. Kakinya melangkah perlahan ke arah kamar, lalu kembali dengan selimut di tangan.
Ia mendekat, menurunkannya hati-hati, menutup tubuh Yaziel hingga ke bahu. Sesaat ia berhenti, memastikan kain itu tidak mengganggu posisi tidurnya.
Udara terasa semakin dingin.
Menyadari itu, Matthew meraih remot AC, lalu menaikkan suhu beberapa derajat.
Setelahnya, ia kembali ke kamar dan muncul lagi dengan bantal di tangan.
Dengan gerakan perlahan, ia menempatkannya di sofa, tepat di tempat ia tadi tertidur. Sebelum menempatkan diri, tangannya menyentuh ujung selimut yang menutupi bahu Yaziel, menariknya pelan, memastikan tidak ada celah bagi dingin yang masuk.
“Good night,” bisiknya pelan.
Ia kemudian merebahkan diri di sofa, menyesuaikan kepala di bantal, mencari posisi yang nyaman.
Napasnya pelan dan teratur, menyatu dengan hening ruangan yang lembut.
Di depannya, Yaziel tertidur nyaman di atas meja.
Keduanya kini terlelap.
Malam bergerak pelan.
Tak ada sentuhan.
Tak ada suara.
Hanya dua tubuh yang memilih tetap tinggal di ruang yang sama, berbagi malam dengan cara yang sederhana.
VII. FLASHBACK.
Matthew’s POV
Salah.
Kalian salah.
Matthew sudah menunggu di depan gedung Vornex setelah dari Cornel.
Motornya terparkir di sisi jalan. Ia memilih posisi yang cukup untuk melihat pintu keluar tanpa terlihat oleh siapa pun.
Ia datang untuk menjemput Yaziel.
Waktu berjalan.
Menit-menit meluncur lambat.
Hampir satu jam kemudian, Yaziel muncul.
Dan ia tidak sendirian.
Langkahnya selaras dengan seorang laki-laki asing yang berjalan di sisinya.
Matthew hanya melihat.
Ia hanya mengamati.
Bahkan setelah laki-laki itu pergi, meninggalkan Yaziel sendirian di tepi jalan menunggu taksi, Matthew tetap diam.
Ia ragu.
Baru setelah Yaziel masuk ke dalam mobil dan tersapu jarak pandang, ia menyalakan motor, dan mengikuti dari belakang.
Ia mengendarai motornya dengan kecepatan wajar. Tidak mengebut, tidak pula melambat.
Pandangannya bolak-balik antara lampu belakang taksi yang ditumpangi Yaziel dan jalan di sekitarnya, memastikan dirinya tetap berada di alur yang sama.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berada tepat di depannya.
Matthew menganggapnya bagian dari arus lalu lintas.
Tapi seiring waktu berjalan, mobil itu terus berada di sana, menutup sebagian pandangannya ke arah taksi.
Ia mencari celah.
Menggeser motor sedikit ke kanan, lalu ke kiri, mengamati ruang yang mungkin bisa dilewati.
Matthew menekan gas sedikit lebih dalam. Mobil hitam itu ikut mempercepat, memaksa Matthew menyesuaikan
Begitu celah sempit terbuka di antara dua kendaraan, ia langsung bergerak. Dengan satu gerakan cepat, motornya berhasil melewati mobil hitam itu.
Pandangannya kembali mengunci pada taksi di depan, yang masih terlihat beberapa puluh meter jauhnya.
Baru saja rasa lega itu muncul, mobil hitam itu kembali terlihat.
Bukan di belakang.
Di samping.
Detik itu juga, perhatiannya terbelah.
Setengah pikirannya tetap tertambat pada taksi Yaziel yang mulai menjauh di depan, setengahnya lagi sibuk membaca pergerakan mobil hitam di sisinya.
Matthew mulai memperkirakan situasi.
Jalur kanan akan segera padat, lampu rem berderet, arus melambat.
Ia memilih jalur kiri.
Dan benar mobil itu mengikutinya.
Dada Matthew mengencang. Ia melirik ke depan, mencari lampu belakang taksi, memastikan kendaraan itu masih berada dalam jangkauan pandangnya.
Saat fokusnya kembali ke samping, mobil hitam tersebut tiba-tiba mempercepat laju.
Dengan gerakan agresif, mobil itu menyalip dari depan.
Belum sempat Matthew mempercepat laju motornya, mobil itu langsung memotong jalurnya, lalu berhenti mendadak.
Matthew menarik rem sekuat tenaga.
Ban motor mencicit keras, tubuhnya terdorong ke depan sebelum akhirnya berhenti tepat di belakang mobil hitam itu.
Pintu mobil terbuka, dan muncul beberapa orang.
Matthew tidak bisa mengenali wajah mereka dengan jelas.
Helm menutup pandangannya, cahaya lampu jalan memecah bayangan mereka menjadi siluet-siluet asing yang mendekat.
Serangan pertama datang sebelum Matthew sempat benar-benar turun dari motor.
Ia menghindari satu pukulan, membalas dengan dorongan bahu dan tendangan singkat, refleks bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Motor terjatuh ke samping, lalu Matthew mundur selangkah, berusaha menjaga jarak.
Ia memukul balik. Mengenai satu, lalu yang lain.
Namun mau bagaimanapun, ia tetap sendirian.
Seseorang menyerangnya dari samping, membuat Matthew terhuyung, hampir jatuh, lalu memaksa tubuhnya tegak kembali.
Sampai sebuah hantaman keras menghantam tangan kanannya.
Bukan pukulan kosong.
Lengannya dipukul dengan tongkat.
Rasa nyeri itu tajam dan dalam, langsung menjalar hingga bahu. Ia bahkan tidak sempat melihat dari mana datangnya, hanya tahu lengannya melemah seketika.
Tangannya refleks menekuk ke arah tubuh.
Pada detik yang sama, dorongan keras dari arah lain menghantamnya.
Matthew kehilangan keseimbangan.
Ia tersungkur ke bawah.
Matthew mencoba bangkit, namun sebuah kaki menekan punggungnya, memaksanya tetap di bawah.
Helm yang masih menutupi kepalanya membuat napasnya pendek dan tercekik, udara terasa sempit berputar di ruang kecil di depan wajahnya.
Matthew memutar tubuh sebisanya untuk melindungi tangan kanannya. Rasa nyeri di lengan itu menusuk, membuat setiap gerakan terasa terlambat.
Serangan berikutnya datang bertubi-tubi, dan ia tidak pernah benar-benar siap menerimanya.
Kepalanya menjadi sasaran selanjutnya.
Sebuah benturan keras menghantam helmnya.
Bunyi retakan terdengar nyaring tajam, menggema di dalam kepalanya sendiri.
Pandangan Matthew berkunang. Pusing diperparah oleh helm yang menekan dan napas yang kian tak beraturan.
Ia ingin melawan, ingin mengangkat tangan, namun lengannya terasa berat dan tidak patuh.
Matthew tidak tahu berapa lama itu berlangsung.
Yang tersisa hanya rasa sakit yang terlalu nyata untuk diabaikan, terutama di tangan kanannya yang kini terasa berat, seolah bukan lagi bagian dari tubuhnya.
Perlahan, dunia di sekelilingnya menjauh.
Suara-suara berubah tumpul, seperti teredam air.
Di sela-sela kabur itu, sebuah harapan singkat muncul bahwa seseorang akan datang, bahwa ada yang akan menghentikannya.
Namun yang ia tangkap justru langkah-langkah ragu dan tatapan-tatapan singkat dari kejauhan.
Lebih seperti penilaian cepat, seolah dirinya yang tergeletak di aspal itulah sumber masalahnya.
Lalu sebuah suara memotong semuanya.
“Stop!”
Suara itu.
“Matthew… Matthew…”
Suara itu membuat segalanya berhenti sejenak. Bukan hanya serangan, tapi juga rasa sakit yang sejak tadi menguasai tubuhnya.
Matthew membuka mata dengan susah payah, menatap ke arah suara itu dari balik helm yang sudah retak.
Sosok itu berdiri tidak jauh. Wajahnya pucat, napasnya tampak berat, matanya dipenuhi sesuatu yang tak sempat Matthew pahami saat itu.
“Yazi?”
Suaranya keluar pelan, hampir tak terdengar.
Untuk sesaat, Matthew benar-benar bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah ini halusinasi?
Apakah tubuhnya akhirnya menyerah, menciptakan wajah yang paling ia kenal di detik terakhir kesadarannya?
Namun kebingungan itu terpotong ketika sebuah tangan kasar menarik helmnya dari kepalanya.
Udara dingin langsung menyentuh wajahnya.
Gerakannya tidak lembut. Kulit pipinya terasa perih saat helm itu terlepas sepenuhnya, meninggalkan jejak panas yang baru ia sadari setelahnya.
Matthew tersengal, menoleh sedikit, dan dunia perlahan kembali fokus.
Yaziel di depannya.
Dan kali ini, ia tidak sedang membayangkan apa pun.
Beberapa orang yang tadi menyerangnya mendadak terdiam begitu melihat wajahnya.
Kebingungan muncul cepat di ekspresi mereka.
“Matthew?”
Nada suaranya berubah seketika. Ia kaget, seolah baru menyadari sesuatu yang seharusnya ia kenali sejak awal.
“Lo ngapain ngikutin kita?”
Matthew menarik napas pendek. Dengan tangan kiri yang sedikit gemetar, ia mengusap darah tipis yang terseret samar mengikuti gerakan jarinya.
“Siapa juga yang ngikutin lu, bodoh,” gumamnya ketus, suaranya serak saat ia berusaha mengatur napas.
Di sekeliling mereka, keyakinan orang-orang runtuh. Tatapan-tatapan yang tadi penuh justifikasi mulai saling menghindar.
Awalnya Matthew tidak benar-benar mengerti kenapa tuduhan itu diarahkan padanya. Baru ketika Mikael muncul, ia mulai memahaminya.
Orang-orang Darren.
Tidak mengejutkan.
Yang justru mengganjal adalah kesan samar bahwa orang itu melindunginya. Mendengar bahwa Darren akan marah jika mengetahuinya, membuat kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan.
Namun, ia tidak mau memikirkannya lebih jauh.
Dengan napas yang masih terasa pendek dan berat, ia memaksa tubuhnya bangkit. Tangan Mikael menopang lengannya sebelum lututnya kembali menyerah.
Setelah itu, ia langsung meraih tangan Yaziel dan menariknya menjauh untuk keluar dari lingkaran tatapan.
“Lu kenapa bisa ada di sini?”
“Oh… tadi macet di sana. Gua nggak betah lama-lama di mobil.”
“Jadi gua keluar, terus ngeliat lu—”
“Terus lu samperin?”
“Lu tau nggak itu bahaya?”
Napasnya tersangkut. Rasa sakit di tubuhnya mendadak terasa jauh dibanding satu hal lain yang baru benar-benar ia sadari.
Takut.
“Emang lu berharap gua diem aja ngeliat orang yang gua kenal dipukulin?”
Matthew tidak menjawab.
Kalimat itu menghantamnya.
Amarah yang tadi sempat muncul runtuh begitu saja, menyisakan sesuatu yang lebih jujur, kesadaran bahwa suaranya barusan penuh oleh ketakutan.
Ia tidak ingin Yaziel ada di sini.
Tidak ingin satu kesalahannya menyeret orang lain ke dalam kekerasan yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.
Namun di saat yang sama, satu pikiran lain muncul.
Kalau bukan karena Yaziel, serangan itu mungkin belum berhenti.
Kesadaran itu membuat dadanya terasa sesak.
Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Menegur, berterima kasih, atau sekadar diam.
Dan ia memilih yang terakhir.
Perjalanan berlanjut menuju toko perlengkapan motor. Dari luar, Matthew tampak baik-baik saja. Padahal, rasa sakit itu masih ada.
Terutama di tangan kanannya.
Matthew menahannya dengan sengaja, mengatur setiap gerakan agar tidak menarik perhatian. Sebagian besar energinya habis untuk memastikan Yaziel tidak menyadarinya.
Kesadaran bahwa malam itu bisa saja berakhir lebih buruk sempat melintas.
Kalau Yaziel tidak muncul di jalan tadi, Matthew tidak yakin bagaimana akhirnya.
Saat Matthew dan Bobby mengobrol membicarakan hal-hal ringan setelah menyuruh Yaziel menaruh helmnya di kasir lalu ia keluar, Matthew tetap berbincang.
Tapi pandangannya beberapa kali bergeser ke arah pintu kaca.
Dari dalam, ia bisa melihat Yaziel berdiri di luar, menggosokkan tangannya ke bahu, jelas kedinginan. Ia menyadarinya.
Bobby ikut menoleh, lalu berkomentar singkat.
“Dia lucu, Matt.”
Matthew mengangguk refleks.
Baru setelah itu ia sadar apa yang baru saja ia lakukan.
“Cie,” kata Bobby.
“Apaan.”
“Lo suka dia, ya?”
“Biasa aja.”
“Biasa aja tapi ngeliatinnya gitu.”
Matthew tidak membalas.
Bobby kembali melihat ke luar.
“Ngomong-ngomong, dia kedinginan tuh.”
“Lo tau kan apa yang harus lo lakuin?” lanjut Bobby.
Matthew langsung mengambil helm setelah membayar. Gerakannya cepat, seolah ingin mengakhiri percakapan itu.
“Udah lah, gua duluan ya.”
“Aman. Hati-hati, Matt,” balas Bobby.
“Jangan lupa,” lanjutnya
“Apaan dah, Bob,” gumam Matthew sambil melangkah keluar.
Bobby hanya menanggapinya dengan senyuman.
Setelah keluar dari toko, Matthew menyerahkan helm putih itu pada Yaziel. Untuk sesaat ia ragu untuk memastikan langkah berikutnya.
Di dekat motor, setelah meyakinkan diri dan menaruh helmnya, Matthew yakin untuk melepas jaketnya dan menyodorkannya pada Yaziel.
Benar, sejak sebelum keluar toko, ia sudah memperhatikan Yaziel yang kedinginan.
Saran Bobby pun tidak menentukan apa pun.
Matthew memang sudah berniat memberikan jaket itu.
Dan juga, mengingat rangkaian sentuhan saat mereka sampai di apartemen—sebenernya, telepon yang masuk bukan alasan utama Matthew berhenti.
Yang menahannya adalah tangannya sendiri, rasa sakit yang cukup untuk membuatnya sadar, risiko yang terlalu besar jika memaksakan diri.
Dan Matthew tidak cukup bodoh untuk melanjutkan sesuatu yang bisa memperburuk kondisinya.
Jika bukan karena itu dia tidak akan semudah itu melepaskan.
Ia membiarkan Yaziel mengangkat telepon. Membiarkan jarak tercipta kembali. Membiarkan situasi kembali ke jalur yang lebih aman.
Jangan disalahartikan sebagai kelapangan hati. Matthew tidak tiba-tiba menjadi sosok yang sepenuhnya pengertian terhadap pekerjaan Yaziel.
Di dalam kepalanya, ada umpatan singkat, lebih pada dirinya sendiri dan tangannya yang tidak bisa diajak bekerja sama.
Padahal, sesuatu hampir saja terjadi.
Tentu, ia peduli pada Yaziel.
Tapi malam itu, yang menahannya bukan kebesaran hati, melainkan keterbatasan tubuhnya sendiri.
Siapa yang salah kalau udah gini?
Namun, walaupun malam itu tidak berlanjut ke arah yang sempat ia inginkan, Matthew tetap merasa tenang membiarkan Yaziel pergi bekerja.
Hasrat itu memang ada.
Tapi di bawahnya, ada keinginan untuk menjaga.
Dan mungkin, di jarak yang ia pilih malam itu, tumbuh sesuatu yang lebih besar daripada sekadar nafsu semata.

